Memberi Label pada Anak ADHD, Perlu Nggak Sih?



"Maaf, nggak bisa. Anak saya ADHD dan butuh pendampingan."



Saya ucapkan kalimat itu ketika seorang ibu meminta saya untuk menjauh dari panggung sementara Altaz sedang bersiap naik ke panggung untuk mengikuti lomba story telling.

Saya yakin ibu itu nggak tahu apa itu ADHD tapi dengan wajah kecewa (mungkin karena saya ngasih wajah fierce 😆) ia terpaksa menuruti kemauan saya dan suami. 

Ya coba aja kalau masih berani ngeyel ke saya. Saya akan menuruti perintahnya tapi juga nggak mau bertanggung jawab kalau anak ADHD itu tantrum atau berlarian ke sana ke mari 😂. Lol.

3 Terapi untuk Anak ADHD bisa dibaca di sini.


Lain waktu ketika kami harus memeriksakan Al ke dokter karena sakit radang tenggorokkan, saya juga mewanti-wanti dokter bahwa Al adalah anak dengan ADHD. Selama ini Al tuh jarang banget sakit, tapi ketika ia sudah mulai bisa tenang selama kurang lebih enam bulan terakhir, ia jadi gampang sakit. 

Saya berharap dokter bisa mengerti keadaan Al, meski harapan itu berbalas kehampaan karena tampaknya dokter juga nggak paham apa itu ADHD. Hahaha. 

Jadi, perlu nggak sih (katakanlah) memberi label pada anak ADHD? 

PERLU DONG, KARENA...

📌 Untuk mendapatkan apa yang ia butuhkan dari lingkungannya, misalnya ketika ia tantrum dan butuh penanganan tertentu atau ketika ia terganggu dengan input yang masuk (seperti suara bising dan lainnya).

📌 Agar orang lain paham bagaimana kondisi anak kita (balik lagi ke poin pertama sih). 

📌  Mendapatkan perawatan medis yang ia butuhkan. 

📌 Mendapatkan fasilitas pendidikan sesuai kondisinya. Ketika sudah tahu dengan kondisi anak kita, ada baiknya selalu mengomunikasikan dengan pihak sekolah, taman bermain, atau day care tempat anak menghabiskan waktunya. 

📌 Ketika ia sudah cukup mengerti, memberi pemahaman bahwa ia hidup dengan ADHD akan membantunya mengerti bagaimana mengatasi berbagai rintangan yang nantinya akan dia hadapi. 


NGGAK PENTING-PENTING AMAT JUGA SIH, KARENA...

📌 Orang lain jadi tahu kondisi anak saya dan itu membuat saya tertekan. 

📌 Saya belum siap menerima kondisi anak saya (denial mode on). 

📌 Takut anak saya dijauhi oleh teman-temannya. 

📌 Khawatir anak saya mendapat perlakuan yang berbeda dari lingkungan.

📌  Khawatir ia akan rendah diri atau tidak PD. 

📌 Khawatir saya akan memberikan perlakuan yang berbeda dari saudaranya yang lain.

📌  Nggak ngefek. 


Kenalan dengan ADHD bisa di baca di sini.


Apa yang Harus Dilakukan


Hmm...sebetulnya ini sih tergantung dari niat dan tujuannya apa. Kalau memang tujuannya baik seperti kejadian di atas, ya nggak apa-apa kok. Karena memang anak ADHD sudah pasti membutuhkan perlakuan yang berbeda (meski tujuan akhirnya dialah yang perlahan harus mampu menyesuaikan dengan lingkungannya) dari lingkungan sekitarnya.

Iya, saya lebih setuju "melabeli" anak saya sesuai kondisinya agar saya lebih bisa menerima kenyataan dan mengatasinya sesegera mungkin. Saya nggak mau terjebak dalam fase denial atau fase penolakan di mana saya masih berharap anak saya baik-baik saja. 




Oh, no. Itu sudah lama berlalu. Bahkan saya lupa apakah saya pernah berada di masa seperti itu. 

Sebaliknya, saya SANGAT TIDAK SETUJU melabeli anak hanya untuk tujuan mengolok atau memakinya. Yang begini memang akan menyebabkan anak jadi rendah diri dan kita akan kesulitan memberikan pertolongan. 

Ini dua hal yang berbeda ya, teman-teman. 
Di satu sisi, label pada anak berkebutuhan khusus memang diperlukan untuk mendapatkan kebutuhannya. Tetapi jika label itu dilekatkan sekadar untuk mengutuki, memaki dan merendahkan; ya sebaiknya hal ini jangan dilakukan.

Being BOLD Parents

Sependek pengalaman saya menjadi orang tua dengan anak ADHD, menjadi orangtua yang bold itu wajib hukumnya. Yang saya maksud dengan bold di sini adalah berani mengakui bahwa anak kita memang istimewa dan memiliki kebutuhan khusus. Jadi ketika ada kejadian "luar biasa" yang terjadi pada anak, kita bisa membelanya dan mengatakan bagaimana kondisi sebetulnya. 

Malu?

Oh, sudah bukan waktunya lagi. 

Khawatir dianggap aneh atau mendapat perlakuan yang berbeda?

Oh well, meski ini adalah bagian paling nyesek dari pengalaman menjadi orangtua dengan anak ADHD, tapi mau nggak mau kita memang harus siap mental menghadapi dunia. 

Hal-hal seperti ini pasti akan dan selalu terjadi. Tekanannya berat banget kalau saya boleh curhat  😂. Malah saya selalu bilang bahwa yang paling berat dari mengasuh anak ADHD bukanlah menghadapi anak itu sendiri, tetapi menghadapi dunia yang seolah nggak punya tempat dan nggak mau mengerti pada anak-anak istimewa seperti ini. 






Tapi ya bodo amat lah ya sama mereka yang masih nggak bisa atau nggak mau menerima 😂. Selagi menunggu mereka menerima (which is nggak penting banget dan nggak saya lakukan, hahaha) saya sih lebih baik meluangkan waktu, energi dan cinta saya untuk Altaz. 

Dunia boleh saja tidak punya tempat untuk anak saya, tapi saya akan selalu ada di sampingnya. 💗

Sampai jumpa di tulisan berikutnya. 


Salam,


Dyah Prameswarie



Komentar

  1. Setuju dengan pelabelan selama si ibu sendiri gak masalah dengan ADHD.

    Sebetulnya ini juga bisa jadi salah satu cara agar masyarakat lebih ngerti apa dan bagaimana menyikapi anak ADHD.
    Ketika mereka tergelitik untuk spontan bertanya, "apa sih ADHD?"

    Keep spirit yaaa

    BalasHapus
  2. Setuju. Buat saya... labelling pd anak berkebutuhan penting bagi orti dan lingkingan si anak. Terutama mereka yg akan terlibat pd stimulasi tumbang si anak tsb.

    Labelling bukan utk mengolok2nya. Namun utk membuat fokus pihak2 di sekitarnya saat memberinya stimulasi agar fokus.

    BalasHapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah membaca blog saya. Saya akan senang membaca komentarmu. Mohon tidak meninggalkan link hidup ya. :)