3 Terapi untuk Anak ADHD


Motherhood is about raising and celebrating the child you have, 
not the child you thought you have. 

Joan Ryan


Halo,
Selamat Minggu pagi yang cerah 😊.

Sepertinya sudah lama banget ya saya nggak menulis di blog ini, hehehe. Alasannya apalagi kalau bukan kesibukan yang (sepertinya) tak pernah usai dan saya kehilangan waktu me-time terbaik saya, yaitu menulis. 

Anyway, beberapa waktu yang lalu saya sudah menulis tentang ADHD di akun Facebook saya. Saya berbagi lumayan banyak informasi di sana tentang anak kedua saya Altaz (7 tahun) dan ADHD yang dideritanya. 

Sekilas Tentang ADHD

ADHD atau attention deficit and hyperactivity disorder adalah gangguan konsentrasi dan hiperaktif. Jadi nih anak saya nggak bisa memfokuskan perhatiannya dalam satu pekerjaan dalam rentang waktu tertentu seperti anak-anak lain seusianya. Ditambah geraknya yang super duper aktif, jadilah Altaz divonis "menderita" ADHD. 




Cerita lengkapnya tentang ini bisa dibaca di link berikut ini ya 

Dari sana, kami dirujuk untuk bertemu dengan psikolog. Setelah itu kami disarankan untuk mengikutkan Altaz pada beberapa kelas terapi. Waktu itu yang disarankan adalah terapi okupasi dan fisioterapi. Sampai sini saya juga masih blank apa dan fungsinya apa sih kedua terapi ini, hahaha. 

Tapi seiring waktu akhirnya kami berusaha memahami kedua terapi ini. Dan setelah dua tahun mengikuti terapi ini, di tahun ketiga saya dan suami memutuskan untuk menghentikan terapi okupasi dan beralih ke terapi pedagogi. Nah, nanti saya jelaskan satu per satu deh apa saja arti dan tujuan dari 3 terapi untuk anak ADHD ini.  

Yang Harus Diperhatikan Tentang Terapi Anak ADHD

Pertama nih, saya harus ingatkan bahwa tulisan ini saya tulis berdasarkan pengalaman saya selama tiga tahun ini. Well, selama naik roller coaster yang nggak tahu kapan berhentinya sih, hahaha. Dan setiap anak ADHD memiliki keistimewaan masing-masing, yang artinya terapinya bisa berbeda untuk setiap anak. Sebaiknya, konsul ke dokter, psikolog dan terapis dulu ya. 

Yang kedua, terapi-terapi ini memang bisa dilakukan di rumah, tetapi mengingat setiap minggu ada perkembangan dan tujuan yang ingin dicapai dari terapi ini, sebaiknya tetap dilakukan di bawah pengawasan ahlinya yaitu terapis

Sebagai ilustrasi nih ya, misalnya minggu ini Altaz sudah ada kemajuan yang bagus di taktilnya (sensor rabaan) jadi minggu ini terapinya bukan berpusat di sensorik rabaan dan tekanan (misalnya). Tapi karena auditory over response-nya terlalu tinggi (misalnya selalu menimpali atau merespon stimulasi suara) maka terapi minggu ini berfokus pada auditory-nya. Jadi terapi yang diberikan adalah melakukan pesan berantai dengan berbisik-bisik. 



Ketiga, -ini akan berbeda tergantung di mana dan siapa terapisnya- setiap pekan, Altaz (orang tua tepatnya) mendapat pekerjaan rumah. Tenaang, ini pekerjaan rumahnya nggak seperti anak sekolahan tapi terapi-terapi sederhana yang SANGAT MEMBANTU perkembangan anak ADHD. 

Nah, pekerjaan rumah ini buat saya dan suami meski susah dilakukan karena kurangnya komitmen dan konsistensi (alasan kesibukn, apalagi) ini penting banget. Kenapa? Ya karena anak kan lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah daripada di tempat terapi, jadi jika terapi-terapi ini rutin dilakukan, kan membantu stimulus yang sudah dilakukan terapis di tempat terapi. 

Jadi ya memang balik lagi ke orang tuanya sih. Apa memang mau anaknya mendapat kemajuan atau hanya tergantung pada terapis. Semuanya balik ke diri kita ya, Buk, Ibuk. Saya nggak mau menghakimi :)

3 Terapi untuk Anak ADHD

Terapi Okupasi

Occupational Therapy Games atau OTG adalah terapi yang memusatkan pada sensomotorik, kognitif dan proses neurologi (saraf) agar anak dapat mengolah, melengkapi dan memperlakukan lingkungannya sedemikian rupa. 

Nah, meski namanya "terapi" tapi ini murni adalah games atau permainan seru untuk anak. Pertama kali menerima terapi OTG ini, Al masih berusia 4.5 tahun dan saya rasa Al menikmati sekali aktivitas-aktivitas di program ini. 


Suasana di Dalam Kelas OTG


Yang waktu itu sempat diterima Al adalah aktivitas sebagai berikut:

- Melompat katak sambil berhitung. 
- Meluncur (setelah menyelesaikan tantangan).
- Bermain lotion untuk memberikan stimulus sensor raba (taktil) dengan cara mengaplikasikan lotion di kaca dan menggambar sesuai petunjuk terapis. 
- Bear hug misalnya anak dibedong dengan selimut tebal dan diminta berguling. 
- Meniti papan keseimbangan. 
- Bermain flying fox.
- Beraktivitas di kolam bola. 

Sebetulnya masih banyak sih bisa browsing sendiri ya. Yang penting sih aktivitas-aktivitas ini memiliki tujuan dan bermakna sehingga anak ADHD yang biasanya impulsif bisa mengendalikan regulasi dirinya. 

Kelihatannya memang bermain, tapi saya berani memberi jaminan (halah) kalau aktivitas-aktivitas di atas betul-betul membawa kemajuan dalam tumbuh kembang Al. Misalnya nih, tugas terapi yang diberikan di rumah adalah mengusap seluruh tubuh anak dengan washlap atau handuk yang (agak) kasar, itu membantu banget mengurangi kebiasaan Al yang suka menabrakkan diri ke teman-temannya dan refleks memukul orang lain. 


Laporan Hasil Terapi OTG


PR OTG yang harus dilakukan di rumah


Awalnya saya juga skeptis kok, hahaha. Rasanya waktu itu saya sudah hopeless banget dan butuh bantuan ASAP agar Altaz tidak lagi "mengganggu" teman-temannya. Yang menabraklah, yang memukullah, menendanglah. Saya sudah nggak enak diomongin sama ibu-ibu karena dianggap anak saya tukang bully. 

Tapi mau nggak mau saya dan suami nggak punya pilihan lain kecuali bersabar dan rajin melakukan terapi tersebut. Alhamdulillah ketika sensor motoriknya membaik, Altaz sudah tidak melakukan itu semua. 

Jadi kunci utamanya memang harus sabar dan istiqomah ya. Bhaique. 


Terapi Wicara

Kebanyakan anak dengan ADHD mengalami delay speech atau kesulitan berbicara (mengungkapkan keinginan). Salah satu terapi yang disarankan adalah terapi wicara. Terapi ini berguna untuk membantu anak dalam mengekspresikan perasaannya. 

Kebetulan waktu itu Altaz tidak dirujuk untuk mendapatkan terapi wicara. Mungkin karena tingkat delay speech-nya tidak mengkhawatirkan. Dalam kasus Altaz, ia tidak mengalami kesulitan berbicara (cadel, berbicara tidak jelas atau terbata-bata) tapi cenderung malas berbicara. Mungkin ini yang membuat Al langsung mendapatkan terapi okupasi, bukan terapi wicara. 

Nah, tiga bulan ditekuni terapi okupasi itu, Al sudah menunjukkan perkembangan. Ia lebih banyak bicara dan berinteraksi dengan orang di sekelilingnya. Seiring waktu ini akan mengalami peningkatan, kok. 

Menurut teman-teman yang anaknya mengalami delay speech, terapi ini bisa dilakukan di rumah, loh. Ada beberapa teman yang sengaja memanggil terapis ke rumah. Atau teman yang lain nih, dengan tekun mengajari sendiri anaknya. 

Beberapa cara yang bisa dilakukan adalah:
- Menggunakan flash card. 
- Memberikan perintah atau berbicara dengan anak secara runut dan tidak sekaligus sehingga anak tidak kesusahan mengelola perintah. 
- Menunggu hingga anak selesai berbicara. 
- Mengucapkan kata-kata dengan jelas, perlahan dan konsisten. 

Ada yang mau berbagi lagi untuk terapi wicara ini? Silakan tinggalkan komentarnya ya, nanti tulisan ini akan saya update berdasarkan pengalaman teman-teman :)


Terapi Fisioterapi

Ini nih, terapi yang setiap minggu selalu ingin dihindari oleh Altaz, hahaha. Sebetulnya terapi fisioterapi di klinik tempat Al berlatih ini supel, baik dan mau memberikan penjelasan. Ia juga sabar dan bisa meng-handle anak-anak dengan baik. 

Nah, Altaz pernah beberapa kali membuat drama dan tidak diperbolehkan keluar kelas sebelum ia menyelesaikan tugas atau meredakan emosinya terlebih dahulu. Saat-saat kayak gini itu memang melelahkan sekali. Rasanya kesal kenapa kok Al nggak mengikuti peraturan dan tenang sehingga nggak ada drama. Di satu sisi merasa ini terapis gini amat ke anak gua yak 😂😂.

PR dari kelas fisioterapi


Tapi ya harus meneguhkan hati dan yakin kalau ini adalah jalan terbaik yang memang harus ditempuh. Buste udah kek pakar motivasi aja ini tulisan. Lol. 

Ya, demi kemajuan tumbuh kembang anak, saya rela mengenyampingkan dua hal menguras tadi. Saya harus bisa bernego dan menjelaskan pada Al kenapa Miss Q "menghukum". Butuh proses lama tapi pada akhirnya dia ngerti bahwa ini baik untuk dia. 

Untuk dicatat, ketika Al bilang dia nggak mau ke kelas Miss Q sedari pagi, yang dilakukan Al ini hanya ngomong tanpa merengek, menangis apalagi marah. Kalau sudah di klinik, ya dia cukup bisa berdamai dengan dirinya sendiri dan masuk ke kelas. I'm proud of him. 



Fisioterapi pada anak ini sendiri bertujuan untuk memperbaiki perkembangan kognitif anak terutama yang berfokus pada fisik. Karena fokusnya pada anak ya biasanya aktivitasnya dengan bermain. Bermain yang punya tujuan dan ada maknanya (meaningful)

Misalnya nih,
- Melompat dua kaki ke depan.
- Melompat dua kaki ke belakang.
- Melompat satu kaki ke samping. 
- Jalan gerobak. 

Percaya deh sama saya, meskipun kelihatannya hanya begitu-begitu saja alias sederhana tapi ketika terapi ini ditekuni dan rajin dilakukan, akan membawa kemajuan pada tumbuh kembang anak ADHD. 

Selama dua tahun Al menjalani terapi okupasi dan fisioterapi. Di tahun ketiga ini karena usianya sudah 7 tahun dan kami bersiap memasukkan Al ke SD, jadi kami memutuskan untuk menghentikan terapi okupasi dan menggantinya dengan terapi pedagogi. Terapi ini lebih ke menyiapkan anak untuk masuk ke jenjang sekolah sih. 

Itu tadi 3 terapi untuk anak ADHD yang bisa dilakukan di bawah pengawasan para ahli ya. Saya tahu kok rasanya berada di roller coaster yang kadang naik turunnya cepat banget dan kadang jalan di tempat. Lelah, kesal dan sometimes you feel hopeless. Nggak apa-apa, wajar dan normal. 

Kalau sudah begitu, tolong ambi jeda sejenak. Ingat lagi tujuan awal dan utama kita: perkembangan buah hati. Kuatkan, sabar dan luaskan hati untuk perjalanan panjang yang akan kita tempuh. Setiap langkah kaki, meski melangkah sedikit, tetap akan memberi kemajuan kok. Sending love dari sini ya 💓




Sampai jumpa di tulisan berikutnya ya.

Salam,

Dyah Prameswarie

22 komentar:

  1. teteh aku selalu suka sama postingan tentang ADHD teteh karena sarat ilmu, aku tu sebenernya galau, anakku tu gampang teralihkan konsentrasinya dan suka sekali mengobrol, itu termasuk ADHD ga ya?

    BalasHapus
  2. Semangat terus ya mbak, insya Allah apa yang kita sudah lakukan untuk sang buah hati pasti banyak sangat berpengaruh untuk perkembangannya.

    BalasHapus
  3. Kirim pelukan dari jauh. Terima kasih sudah berbagi Informasi. Ibu Paus pasti bisa. Al anak baik.

    BalasHapus
  4. Masyaallah. Thank you for sharing, Mbak. Semoga semakin banyak doa mengalir untuk Altaz dan orangtuanya. Doa-doa yang akan mewujud jadi energi positif berlipat ganda.

    Banyak info yang terasa baru bagi saya. Jadi akan saya baca ulang terus tiap beberapa waktu.

    Anyway. Penasaran. Apa sebenarnya yang dirasakan Altaz waktu dia ingin menabrakkan diri dan memukul teman-temannya?

    Apa seperti, "Heey, you're interesting! I love youuuu!" #BRUAGH (lari dan nabrak ke teman yang dianggap menarik.

    Atau seperti, "Otot-ototku berasa ada yang menggerakkan, dan harus digerakkan. Tubuhku bakal terasa kejang, kaku, dan nggak nyaman kalau nggak digerakkan."

    Atau seperti, "Aku pingin bebaaas wihiiii. Menikmati sensasi seperti tiupan angiiiin. Berlari seperti terbaaaang!" #BRUAGH, nabrak temen karena kebablasan lari dan nggak sempat ngerem.

    Atau...

    "Aku pingin menguji seberapa jauh kekuatanku dan seberapa jauh aku bisa menghadapi rasa sakit. Karena aku adalah super heroooo!" BRUAGH! Nabrak/mukul temen hanya karena pingin ngerasain sensasi hentakan/hantaman yg tak membahayakan baginya.

    ?

    I... am curious....*coz rasanya familiar, tapi berusaha nggak self-diagnose....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setauku, salah satu ciri2 ADHD adalah mereka bergerak tanpa tujuan tertentu. Jadi, saat dia menabrak atau memukul itu ya bukan karena dia ingin apa2. Itu terjadi begitu saja karena dia belum bisa mengendalikan. Begitukah, mbak dydie?

      Hapus
  5. Rasanya saya ingin sending love banyak dari sini, Mbak. Saya yang tidak memiliki anak dengan ADHD aja, kadang-kadang berasa kayak naik roller coaster. Ada aja ujian kesabarannya.

    Alhamdulillah Altaz selalu dipenuhi cinta oleh keluarga, ya. Semoga Mbak Dydie dan keluarga tetap diberi kesabaran seluasnya. Tetap semangat ya, Altaz!

    BalasHapus
  6. seneng banget bacanya ka, salut sama kaka dan suami sebagai kedua org tua al yang mau usaha dan mendampingi al dengan sabar. semoga al lancar lancar masuk sekolahnya

    BalasHapus
  7. Mbaa, semoga sela terapi yang dijalankan ini memberikan kekuatan untuk mba dyah dan si kecil. Memang tak mudah tapi semoga bisa mellaui ini dengan baik. Doaku untukmu mba :)

    BalasHapus
  8. teteh makasih banget ini infonya sangat bermanfaaat, soalnya ada salah satu keponakan aku yang ADHD juga, mau share link nya ah ke mamanyaa hhehe

    BalasHapus
  9. aku baru tahu soal ADHD nih, infonya sangat membantu, buat bekal kelak menjadi seorang ibu hehe

    BalasHapus
  10. Suka banget sama tulisan ini, semangat terus ya mom

    BalasHapus
  11. Mpo jadi Ingat Dian sastro.anaknya juga hiperaktif. Memang perlu sabar dan uang buat biaya terapi.

    Sekarang anaknya Dian sastro sudah sembuh dan tidak perlu tetapi lagi.

    Semangat dan tetap tersenyum seperti aku yang selalu tersenyum bahagia melihat video masakan mba.

    BalasHapus
  12. Anak ADHD itu menurutku unik. Tapi kayanya banyak orang tua yang belum tau anaknya ADHD atau bukan apalagi sampai terapi khusus ADHD seperti ini.

    BalasHapus
  13. beberapa minggu lalu aku ditugaskan untuk menemani anak-anak ADHD, dari yang baru masuk terapi sampe yang udah berjalan lama. memang harus konsisten ya mba tapi aku salut banget sama orangtua yang mendampingi, mereka sabar banget, aku sampe mikir, kalo aku diposisi mereka belum tentu bisa sabar kaya gitu.

    BalasHapus
  14. thank you for sharing mbak untuk artikelnya bikin nambah ilmu lagi tenang adhd, baru tahu secara spesifik untuk terapinya

    BalasHapus
  15. Tetap semangat ya mba, apapun itu kita pasti selalu ingin memberikan yg terbaik buat anak

    BalasHapus
  16. aku belum punya anak sih, tapi info kayak gini penting banget diperhatiin, buat pembelajaran juga. aku baru tau juga kalo gak semua terapi sama, tergantung anaknya kayak gimana ya

    BalasHapus
  17. Teteeeh...
    Kemarin aku sempet banget pengin ngikutin anakku ke kelas terapi wicara juga di salah satu rumah sakit. Tapi urung karena beberapa tanda, anakku gak ada.
    Hanya belum bisa ngomong r sekarang.

    Huhuu...ini termasuk speech delay kah?

    BalasHapus
  18. Cuma mau bilang.. kangen 😆
    Al sehat2 yaa.. bu paus kapan ketemu lagiiiiii
    Ibu2 bilang Al suka bully ya waktu itu ?.padahal tanpa nyari tau kenapa dan gimana.

    BalasHapus
  19. Mba Dyah semangat selalu dan adek sudsh menunjukkan progresnya. Semoga nanti berjalan dengan lancar pendaftaran sekolahnya dan terapinya. Aamiin

    BalasHapus
  20. Anak sulung saya juga sempat didiagnosa ADD mbak dan sempat terapi juga, terapinya kurang lebih ama sih dengan Aiman dulu. Sekarang rasanya masih pengen terapiin dia lagi tapi mesti dari nol lagi, konsul psikolog lagi hehehe

    BalasHapus
  21. Saya juga waktu kecil kurang bisa konsentrasi mba ._.

    Tapi nga tau, sekarang bisa nga, kalau tengah malem sepertinya bisa.

    BalasHapus

Terima kasih sudah membaca blog saya. Saya akan senang membaca komentarmu. Mohon tidak meninggalkan link hidup ya. :)

Recent

recentposts

Random

randomposts