BPN Day #5: Bahwa Emosi Itu Menular (Lewat Sosial Media)



Emosi Itu Menuluar - Daniel Goleman


Tema BPN 30 Day Challenge hari kelima ini adalah 'tentang media sosial'. 

Ini membuat saya membuka lagi buku karya Hernowo Hasim yang berjudul Flow di Era Socmed: Efek-Dahsyat Mengikat Makna yang sudah lama saya beli tapi belum saya baca. Alasan belum dibaca karena ukuran font dan pilihan kertasnya yang bikin saya menyerah duluan. 

Sudah, lupakan saja soal ukuran font, pilihan warna font dan kertas kuningnya. Hari ini saya tidak akan membahas soal itu, melainkan soal media sosial. 

Soal emosi, yang rupanya banyak orang yang tidak mengetahui bahwa emosi pada saat menulis status atau komentar di media sosial atau chat room, bisa terlihat pada pilihan kata yang tertulis.

Wagelasih. 

Pada Suatu Waktu

Pada suatu waktu saya membaca tentang thread di Twitter yang menjadi viral. Tentang celetukan 'namanya juga anak-anak'. Inti dari thread tersebut adalah dunia sudah tidak menerima celetukan 'namanya juga anak-anak'. 

Karena anak-anak harus dilatih dan paham betul apa itu etika di tempat umum, karena anak-anak harus jadi makhluk (baca: robot) yang sudah disetel untuk menjadi sangat sopan dan menurut dengan aturan orang tua dan dunia. 

Geram saya membaca thread tersebut 😈.

Rasanya anak-anak sekarang dilahirkan hanya untuk mengikuti aturan manusia dewasa, harus ikut arus dunia yang liar dan tak terkendali demi memuaskan manusia-manusia dewasa yang ingin menonton bisokop dengan tenang, yang ingin bermesraan di kafe dengan tenang atau yang ingin dunianya terbebas dari anak kecil.

Ternyata si pembuat thread ini adalah salah satu teman di Facebook. Dia bagikan screen capture thread di Twitter itu akun Facebok miliknya. Karena sedang geram dan tersinggung, saya menulis komentar seperti ini:

Semoga mbak Suzzanna dilembutkan hatinya, semakin dewasa menghadapi anak-anak dan semoga anak-anak mbak Suzzanna menjadi
anak-anak yang dicintai dunia.

Tentu saja nama sebenarnya bukan mbak Suzzana. Lol.

Coba baca lagi komentar saya tersebut. Dua atau tiga kali. Kalian akan tahu bahwa 'harapan (atau doa?)' tersebut bukan sebenar-benarnya harapan, melainkan luapan emosi yang diungkapkan sehalus mungkin seperti fenomena humble brag. 

Halus, tapi nyelekit di hati. 


Padahal, sebetulnya saya cuma mau bilang:



Saya nggak terlalu peduli dengan reaksi mbak Suzzanna saat itu. Tapi ketika hati sudah mulai tenang dan saya kembali membaca komentar saya, saya merasa sedikit sekali bersalah. Karena emosi saya terlihat betul dalam komentar tersebut. Mbaknya pasti merasakan kemarahan saya(atau malah bingung) dengan komentar saya tersebut.

Tapi biarlah, biar mbaknya tahu bahwa satu kasus saat anak-anak bertingkah bukan berarti semua anak di planet ini tidak tahu cara beretika di tempat umum.

Pada Suatu Waktu yang Lain

Pada suatu waktu yang lain, saya berbagi resep di Facebook. Resep marmer cake. Buat sebagian orang yang sudah lama berkecimpung di dunia perbakingan, membuat marmer cake semudah membuat indomie rebus di hari hujan. Mudah dan mengenyangkan.

Tapi untuk saya yang sudah lama terkena kutukan bolu bantat, berhasil membuat satu loyang marmer cake adalah impian yang jadi nyata. Tsaah. 😅😅



Alkisah, membuat cake ini ada aturan jelas bahwa ini harus begitu dan itu harus begini. Aturan ini dibuat agar semua orang bisa dan berhasil membuat cake. Bahkan the best pastry chef di dunia ini juga pakai aturan yang sama. 


Tapi itu kalau kamu adalah seorang the best pastry chef...in the universe!

Karena saya bukan the best pastry chef (dan sudah melewati masa mencoba semua teknik tapi tetap gagal) dan akhirnya menemukan satu cara tertentu agar cakemu berhasil, ya saya tetap pakai cara saya. Rebel! Hahaha,

Maka saya berbagi teknik meskipun ini melanggar aturan di atas, di threat saya di Facebook. 

Reaksi pertama datang dari (tentu saja!) seorang baker yang sudah sekian tahun punya pengalaman di dunia perbakingan, dikenal karena resep browniesnya yang enak dan punya usaha kue -termasuk menjual marmer cake-.

Dia berkomentar seperti ini,

Masya Allah, beda ya kalau orang yang sudah berpengalaman seperti teh Dydie. Mentega cair pun dimasukan dan diaduk dengan mikser kecepatan rendah. Kalau saya yang masih pemula, pasti gagal deh. 

Contoh humble brag, njiiir (pardon me for this language 🙏). Nyahahaha.


Kami berdua sama-sama tahu bahwa mentega cair dimasukan ke dalam adonan dan DIADUK DENGAN TEKNIK ADUK LIPAT MENGGUNAKAN SPATULA BUKAN MIKSER  karena mencegah adonan turun atau bantat.

Tapi kenapa elo harus komen seperti itu, mbaknyaaa? 😅😅😅😅 Toh saya tahu buat mbaknya, metode saya terlihat absurd dan Andah melecehkan hal tersebut. wkwkwk.




Kenapa saya bisa tahu mbaknya sedang humble brag?  ya karena fakta-fakta di atas (bahwa kami datang dari dua dunia yang berbeda: saya dari dunia yang baru mulai belajar baking sementara mbaknya dari dunia lain, wkwkwk).

Pada Satu Waktu yang Lain Lagi...

Saya sedang merasa sahabat baik saya sedang ingin menjauhi saya. Mungkin saya menganggu kehidupannya. Udah kayak sundel bolong aja saya nih 😅😅.

Saya menuliskannya di Instagram saya bersama dengan foto kopi yang saya ambil di kedai kopi di Bandung.


Suami bilang bahwa saya suudzon. Saya bilang, "Bukan suudzon, tapi sebelum saya menuliskan hal ini, saya sudah memerhatikan dia." 


Pada pilihan kata yang ia pilih saat chat lewat WA, pada komentar-komentar saya yang tidak berbalas, pada gesture tubuh ketika kami bertemu suatu waktu, juga pada emotikon yang dia kirimkan pada saya. 

Kelihatan sekali bahwa dia sedang ingin menghindari saya, untuk satu waktu tertentu.

Dan ternyata...

Emosi sebagai sistem persinyalan, tidak memerlukan kata-kata.

Menurut Daniel Goleman, seorang ahli yang menekuni peran emosi untuk meningkatkan kinerja diri dalam bidang pekerjaan yang kita tekuni; emosi memerankan peran sangat penting dalam perkembangan otak manusia sebelum kata-kata menjadi perangkat simbolik bagi manusia. 

Bahkan ketika sekarang kita menggunakan media sosial sebagai salah satu alat untuk berkomunikasi. Bahwa emosi-emosi yang kita rasakan, memengaruhi pilihan kata-kata yang kita ketikkan dan kita kirimkan ke lawan bicara kita di ujung sana. 



Apalagi kalau kita terbiasa membaca berbagai macam buku dan genre. Meski samar, emosi itu bisa kita rasakan.

Itu juga yang saya alami ketika menulis novel seri keempat dari Djoeroe Masak: Sembah dan Berkah. 




Mbak Nurhayati Pujiastuti -salah satu mentor menulis saya-, mengatakan bahwa di novel tersebut emosi saya tampak sekali. FYI, novel tersebut bercerita tentang Sedayu yang baru saja menjadi seorang ibu dan bagaimana ia terjebak dalam perannya sebagai ibu yang akhirnya memengaruhi emosinya. 

Membaca penjelasan Daniel Goleman tersebut, saya jadi ber-'ooo' panjang. Ternyata emosi itu menular. 

Bahwa status-status yang penuh semangat menulari pembacanya sedemikian rupa untuk tetap semangat (padahal boleh jadi saat membuka media sosial, perasaannya sedang sedih). Bahwa pada status yang penuh kenyinyiran, tanpa kita sadari, kita juga jadi ikut nyinyir. Bahwa pada status mengandung sindiran, si orang yang disindir merasa tak enak hati yang akhirnya berlanjut pada berakhirnya suatu pertemanan. 

Atau pada status-status politik yang penuh ujaran kebencian, kita menemukan diri kita jadi tak semangat, marah, jijik, atau malah ikut jadi seorang pembenci dan perundung. 

Mungkin itu sebabnya, pada akun-akun yang sering mengungkapkan ujaran kebencian, mereka pada akhirnya bernasib sama: diblokir oleh teman baik. 

Salam,

Dydie Kitchen Hero




Referensi

Sumber meme: Meme Qasidah for All Occasion
Sumber Buku:  Flow di Era Socmed: Efek-Dahsyat Mengikat Makna - Hernowo Hasim
Sumber Foto: Pixabay

19 komentar:

Putu Ayu Winayasari mengatakan...

Huakakakakakk... aku baca tulisannya ikut geram, tapi ndadak ngguyu liat image2nya, huahahahhaha... dapet darimana tho itu, bisaaaa aja nyarinyah!

herva yulyanti mengatakan...

Wah bu Paus aku salfok sama Mbah Daniel Goleman, kalau sebut dia aku merasa pening karena semasa kuliah dulu si Mbah selalu disebut :D

well sepakat emosi itu menular kadang memang ketika ingin komen saat ada status yang gatel banget pengen dikomen duh suka pengen nyeletuk tapi sekarang aku tydack mau gegabah :D

Uwien Budi mengatakan...

Iya banget, emosi memang bisa menular. Walaupun komentarnya halus dan memuji, tapi sebenarnya itu pengen pamerin kehebatan diri.

Rara febtarina mengatakan...

ikut hanyut aku sama postingannya, aku baru menyadari sinyal-sinyal itu, bener juga sinyal emosi itu dikirimkan ya

Raisa Hakim mengatakan...

Whuaaa iya teh bener banget emosi itu menular sampai aku pernah puasa sied saat hamil karena gak mau sampe kebawa sama yang negatif di socmed kayaknya mental belum siap saat hamil. Hehehehe

Sissy mengatakan...

Hihi, saya salah satu orang yang nggak bisa nerima alasan namanya juga anak-anak lho Mbak. Lebih karena saya pikir ya anak-anak memang seringkali ga bisa diatur, tapi kadang ortu nya juga ga mau berkorban. Misalnya: kalo anak saya tantrum di restoran ya saya langsung minta bungkus dan pulang. Tapi kan ada yg tetep diem disana berlagak ga tau anaknya jerit-jerit ga keruan, pas ada yang terganggu alasannya "namanya juga anak-anak"...ih pengen jitak ortu nya deh. Jadi curcol nih. Hehe

Armita Fibriyanti mengatakan...

Aku gak ngerti ttg margarin cair bedanya gimana hahaha la wong aku taunya makan aja hahaha. Btw iyap bener emosi itu emang menular. Sebisa mungkin share yg positif2 aja di sosmed

Zahra Rabbiradlia mengatakan...

Ah teh ku jadi ngakak baca komen humble itu haha.
Etapi bner sih, emosi tu nular. Jdinya ku mmebatasi scrolling ga penting dan unfollow akun unfaedah

Anonim mengatakan...

Aku kok ikut emosi juga ya bacanya etapi ngakak juga sih *monmaap*
Bukan bermaksud memutus silaturahmi, tapi aku ini ga mau deh sampe ada toxic people di hberanda lalu ku blokir aja. Pernah banget ada yang komen ga asique banget mengenai daku yang dulu belom berhijab. Deuuh, memang medsos teh pedang bermata dua ya, kalau ga pinter - pinter pake nya ya kita kehilangan banyak hal salah satunya, teman.

Yasinta mengatakan...

media sosial teh ya juga tentang menahan jempol ngetik sembarangan ya.
Aku juga pernah tuh ngalamin dapet komen - komen ga ena, ku blokir saja kalau udah keterlaluan hehe. Saring sebelum sharing teh bnar adanyanya teh.

Ulu mengatakan...

Aheuheu ini banget. Saya sering kebawa emosi pas bikin status. Abis itu nyadar trus hapus status :))) hadeuh...

Nurul Fitri Fatkhani mengatakan...

Betul juga ya, ternyata emosi itu bisa menular. Termasuk status-status yang mengandung emosi di medsos.
Oleh karenanya saya lebih memilih gak terlalu sering scrooling di medsos, hayati lagi lelah, Kak 😂😂

Ida Tahmidah mengatakan...

Beneran deh jejak digital gak bisa dihapus jadi memang hes ekstra hati2...sy kadang diset pribadi dulu kalau bikin status ..takut nyesel nantinya...hehe

Bibi Titi Teliti mengatakan...

Emang iya banget sih, aku setuju tuh!
Makanya following aku baik di IG maupun twiter isinya receh semua! Mulai dari meme kdrama, parodi kpop, pokoknya aku ogah baca yang nyinyir2 dan nambah beban hidupku yang udah berat inih ehe ehe ehe

Nche Hanie mengatakan...

Ako gagal pokus liat bolu, trus bakalan komen..
" Mau atulah, kirim sekalian ma kopinya" (menyebalkan ga, cobaak) hahaha

Emang bener Dy, kadang ya gitu deh dulu waktu masih muda masih tergelitik esmosi, tapi sekarang mah dah biasa, cukup senyum aja, ato ngakak, berasa hiburan liat di TL

Sri Al Hidayati mengatakan...

Bener banget teh yaa, jadi kalau penulis menulis novel dan dari sudut pandang tertentu terkadang kita ikutan emosi dan jadi suka dengan tokoh peran tertentu.

Evi Sri Rezeki mengatakan...

Iya Teh, karena emosi itu juga dari hati pasti tersampaikan. Makanya katanya kalau lagi emosi jauhi media sosial hehe.

susie ncuss mengatakan...

aku baru tau teh kalau ada istilah humble brag.
makasih lho teh atas pengetahuan barunya yang membuat sel otakku seperti mendapatkan zat gizi berkualitas tinggi tiada tara. hehe

Maria G.Soemitro mengatakan...

saya terkena kutukan bolu gulung, mbak Dy

dan akhirnya nyalahin oven

*sebagai mahluk mati yang ngga bisa menjawab ketika dijadikan kambing hitam*

:D :D

Recent

recentposts

Random

randomposts