BPN Day #11: Benda yang Jadi Kesayangan Ibu Paus


“There is no friend as loyal as a book.” 
― Ernest Hemingway

Hari berlalu. 
Hujan dan terik mentari datang bergantian.
Tak terasa BPN 30 Day Blog Challenge sudah memasuki hari ke-11.

Yaelah mau ngasih tahu masuk hari ke-11 aja sok puitis   😂😂

Dan hari ini temanya adalah benda yang dikoleksi di rumah.

Saya langsung agak mager gitu, hihihi. Bukan apa-apa, saya malas motret, nih. Lagi pula sebagian besar buku-buku saya sedang ada di kardus (terutama buku paling favorit) karena rak bukunya sedang diperbaiki dan sebagian buku yang lain sudah dihibahkan. 

Benda kedua yang saya koleksi belakangan ini adalah props foto untuk keperluan memotret makanan. Yang ketiga adalah loyang atau peralatan dapur. Ini juga karena fugsinya aja sih, bukan karena lagi kekinian atau apa. 

BUKU

Sejak kecil saya suka sekali membaca. Di rumah, orang tua saya menyediakan berbagai ensiklopedia dan nggak pelit membelikan buku cerita. Buku cerita masa kecil yang berkesan sampai sekarang adalah Seri Tini, yang belakangan kembali terbit dengan judul Tina. Entah kenapa, wkwkwk. 



Saya ingat betul ilustrasi di salah satu buku Tini yang berkesan untuk saya. Judulnya Tini Belajar Memasak. Ada adegan Tini berada di dapur dan sedang memasak ditemani Ibunya atau saat bibir mungilnya bersiap mencicipi sup dari sendok sayur. Ilustrasi-ilustrasi ini melekat di benak saya sampai sekarang. 



Dulu itu saya membaca sambil berkhayal suatu saat akan jadi seperti Tini, bekerja di dapur, membuat makanan dan menikmatinya. Sekarang jadi food blogger dan food writer, deh. Hihihi. 

Buku kedua yang saya koleksi adalah novel-novel Sidney Sheldon. Dulu saat SMA saya rela nggak jajan selama sebulan demi bisa membeli novel Sidney Sheldon, jadi ketika libur tiba saya punya banyak persediaan bacaan. 

Dari novel Sidney Sheldon jugalah saya belajar teknik menulis, tanda baca dan memperbanyak diksi. Cara Sidney Shelon membuta plot twistlah yang membuat saya terkagum-kagum. Apalagi Sidney Sheldon selalu melakukan riset menyeluruh dan wawancara ke sumber aslinya. Pantesan novelnya tersasa nyata. 

Salah satu judul yang paling saya sukai adalah The Windmills of The Gods atau Kincir Angin Para Dewa. Novel ini menceritakan seorang professor di Kansa City, US yang "dipaksa" menjadi seorang duta besar Amerika untuk Rumania. Intrik politik dan plot twistnya keren banget deh. Dari novel ini saya jadi tahu bagaimana politik "bekerja" dan ini memengaruhi pandangan saya tentang politik.

Sebetulnya masih banyak koleksi buku saya (kebanyakan novel dan buku anak) dari pengarang favorit saya termasuk Roald Dahl, Oka Rusmini, Mitch Albom dan Chitra Divakaruni. Tapi terlalu panjang kalau saya ceritakan di sini. 

Yang jelas, membaca buku membuat saya merasa "kaya". Kaya dengan pengathuan dan imajinasi dan bukan sekadar hobi yang menghabiskan uang saja. 

PROPS FOTO

Sebetulnya ini lebih ke investasi sih, karena toh nanti balik lagi dalam bentuk saldo di rekening, hehehe. Tapi saya suka gemes sama gelas-gelas imut di toko, jadi ya lumayan juga sih koleksi gelas imut yang saya miliki. 

Sebetulnya saya tuh suka bangeet sama yang namanya piring keramik, mug dan toples kaca. Kalau ke Ace Hardware, Mutiara Kitchen, Informa atau IKEA, rasanya ingin mengambil semua toples kaca (baca Manison Jar) dan emmbawanya ke rumah. 

Melihat mug aneka warna (apalagi kalau warnanya perpaduan biru dan putih ya 💗, nggak tahan banget ingin bawa balik ke rumah) dan piring keramik, bikin saya salah tingkah gitu. Hahaha. 

Untungnya beberapa keadaan membuat saya memaksa diri untuk tidak kalap dan menoleksi ketiga benda ini secara kalap. Hahaha. Bermula dari keterpaksaan ini, saya jadi bisa menahan diri. 

Kalau yang khusus untuk props foto biasanya saya menyesuaikan dengan makanan atau tema yang akan difoto. Baru deh kepikiran dan panik menghubungi Ika menanyakan apakah punya koleksi tertentu. Jadi ya masih sesuai fungsinya, sih, dan sesuai kebutuhan. Makanya koleksi props saya nggak banyak-banyak amat. 

ALAT DAPUR

Yang ini sebetulnya saya saja dengan props foto. Kalau saya perlu, baru saya agak panik dan langsung membelinya. Kalau dirasa belum perlu, ya nggak beli. Tapi ya lama-lama lumayan menumpuk juga, hehehe. 

Saya juga jarang banget tergoda dnegan food blogger atau ibu-ibu lain soal gawai dapur kekinian. Meskipun lagi musim bikin roti pakai loyang oval, saya masih anteng saja. Baru ketika ada pesanan, saya membelinya. 

ALAT TULIS
Bolpen, washi tape dan jurnal adalah barang lain yang bikin saya agak kalap seperti koleksi buku-buku saya. Kalau sudah dapat transferan royalti, buru-buru cek akun favorit dan kalap milih, hihihi.

Ini juga kebiasaan saat SMA, senang banget menghias buku catatan dengan aneka warna dan gambar a la kadarnya. Sekarang kebiasaan ini belranjut dengan membuat jurnal harian dan food jurnal. Kapan-kapan saya ceritakan ya tentang hobi saya yang menenangkan ini. 

Hmm, apalagi ya? Sepertinya hanya itu deh benda yang saya koleksi. Seiring dnegan bertambahnya usia, saya jadi nggak kalap banget ketika membeli barang. Pokoknya sesuai kebutuhan, fungsi dan uang di rekening. Hihihi.

Sampai jumpa di tulisan berikutnya ya.


Salam,

Dydie Kitchen  Hero

Tidak ada komentar:

Recent

recentposts

Random

randomposts