Rabu, 18 Mei 2016

#WarungKopi: Bersenang-senang dengan Kopi di 5758 Coffee Lab Bandung



http://www.dyahprameswarie.com/2016/05/warungkopi-bersenang-senang-dengan-kopi.html
Coffee,

there's always BEAN a place for you...

Saya tidak pernah berniat untuk jatuh cinta pada kopi. Saya selalu ingin setia pada se-mug teh yang saya minum setiap pagi, sejak saya kecil, sepanjang saya bisa mengingatnya.  Karena buat saya, kopi terlalu 'berat', terlalu filosofis dan di beberapa bagian terkesan angkuh.

Ketika saya melangkahkan kaki ke 5758 Coffee Lab siang itu, saya sudah mewanti-wanti diri saya sendiri untuk tidak jatuh cinta. Cicipi, catat, sekadar tahu saja, sudah cukup. Begitu niat saya. Ternyata takdir berkata lain.

Ngobrol dan mendengarkan Mas Adi yang beraksi di depan kami siang sampai sore, membuat pertahanan saya luluh. Membuat keangkuhan orang-orang yang bergerak di dunia kopi runtuh. Dan filosofis yang bertebaran itu nyata adanya. 

Jadi, kalau nanti setelah kamu membaca tulisan ini lalu mengalami ketertarikan pada kopi, ya jangan salahkan saya. Segera melipir ke kedai kopi lokal di kotamu dan pesan secangkir cappucinno. Atau sederhana saja, pergi ke dapur dan seduh kopi instan favoritmu. Di akhir hari, bukan soal pilihan kopi kok, tapi soal kenikmatan dan kisah yang kita dapatan. :)

Kelas Coffee For Fun

Dari kemarin saya sudah bikin teaser tentang kelas Coffee For Fun, baik lewat tulisan maupun video di YouTube. Sebetulnya apa sih 5758 Coffee Lab dan kelas Coffee For Fun ini?

Tadinya kami juga ribet dengan nama kedai  laboratorium kopi yang satu ini. Lima tujuh lima delapan. Dih. Eh, ternyata Mas Adi ngasih bocoran cara membacanya baru setelah kelas hampir selesai. Ternyata kita bisa menyebutnya dengan Maju Mapan Coffee Lab. Epik! :D




5758 Coffee Lab sendiri sebetulnya bukan sekadar kedai kopi tempat kita bisa nongkrong dengan laptop dan colokan untuk sekedar cari wifi gratisan (ngaku lo, pasti banyak yang begini. lol.) atau ngemil cantik ala mamak-mamak sosialita. Hahaha.

Bukan, 5758 Coffee Lab bukan kedai kopi yang seperti itu. Ini adalah tempat di mana setiap orang bisa belajar tentang kopi. Bahkan orang awam sekali pun yang baru ingin mengenal kopi. "Mari belajar dan berbagi," kata Mas Adi, salah satu barista dan instruktur di sana. 

Sebetulnya, ada banyak kelas yang sudah dirancang tim 5758 Coffee Lab. Hanya saja yang baru berjalan adalah kelas Coffee For Fun dan kelas Basic Manual Brewing.  Senangnya lagi, Mas Adi dan Mbak Desi masih akan terus memperbaiki kekurangan-kekurangan yang mereka temukan sepanjang kelas berlangsung.


Nah, kelas yang saya ikuti adalah Coffee For Fun. Kelas ini cocok banget untuk kamu yang baru belajar tentang kopi. Cocok juga untuk saya yang sudah berniat untuk tidak jatuh cinta pada kopi. Meski pakai embel-embel kelas, tapi nyatanya betul-betul menyenangkan kok. Mas Adi bukan mengajarkan tapi mengajak kami semua ngobrol dan jatuh cinta pada kopi. Sialan! Ini lebih berbahaya. Hahaha.


Teknik Seduh Manual
Biji-biji Kopi Bali Kintamani Siap Digiling

"Mas Adi, biji kopi apa yang sih yang disajikan di sini?" tanya saya.

"Hari ini kami punya Bali Kintamani, tapi nanti kami juga akan punya biji kopi yang lain. Baik lokal maupun dari luar," sahut Mas Adi.

Saya, yang sok tahu dan sok filosofis, kembali bertanya. "Kenapa pilih Bali Kintamani, Mas?"

"Karena harganya sedang bagus dan enak. Hahaha," Mas Adi kemudian tergelak.

Dan jawaban Mas Adi sukses bikin saya  keki.

Tak lama kemudian Mas Adi mengajak kami untuk menempati meja yang sudah disediakan. Di atas meja sudah diletakkan kertas beserta angka 1,2,3,4 yang diatasnya terletak gelas-gelas bening. Di gelas-gelas itulah kopi kami (yang diseduh dengan empat alat berbeda) akan dituang. Tugas kami adalah mencicipi dan membandingkan rasa dan aroma.

Ketika Mas Adi mengatakan bahwa keempat alat yang akan kami pelajari hari itu akan menciptakan rasa, kepekatan dan aroma yang berbeda, saya sih cuma mengangguk saja. Percaya, sih, tapi belum dapat gambaran jelas.

Teknik pertama yang kami coba adalah French Press. Tahulah ya alat ini seperti apa. Saya juga punya di rumah meski hadiah dari merk kopi tertentu *etdah*. Mas Adi segera menimbang biji kopi, menggiling lalu menuangnya ke dalam French Press.

Menyeduh Kopi dengan Alat French Press

"Lebih baik membeli biji kopi ketimbang bubuk kopi," ujar Mas Adi sambil menunggu proses penyeduhan selesai, "Biji kopi yang baru digiling akan memberikan kenikmatan tersendiri. Sebaiknya jangan membeli terlalu banyak, kira-kira cukup untuk jangka waktu tertentu."

Otak saya segera memikirkan alat penggiling kopi kecil yang muat di dapur mungil saya. Selama ini di rumah saya selalu menyeduhkan suami bubuk kopi Moka Arabika dari Toko Kopi Aroma di Banceuy. Itu pun aromanya sudah ratusan kali membuat saya tergoda untuk menyeduh kopi dengan alat French Press, tuang karamel dan es. Ok then, grinder is on my priority list for my coffee journey!

Alat kedua yang dipakai Mas Adi adalah Kalita Wave, berupa bejana yang menggunakan kertas filter serupa kertas cup cakes. Sama seperti ketika menggunakan French Press, Mas Adi juga menggunakan timer ketika sedang menyeduh. Ketika wajah-wajah kami penasaran dengan penggunaan timer, Mas Adi berseloroh, "Kenapa saya menggunakan timer? Karena kopi membutuhkan waktu agar pori-porinya terbuka. Saat pori-porinya terbuka inilah ia akan mengeluarkan essensial oil dan lemak yang menentukan cita rasanya. Jadi penting untuk memberikan ia waktu yang tepat, yaitu empat menit."

Kalita Wave

Dan Mas Adi benar tentang hasil seduhan yang berbeda dengan alat yang berbeda. Seduhan kedua lebih pekat dari yang pertama, rasanya lebih kuat. Kamu bisa lihat perbandingannya dari foto di bawah ini.



"Untuk orang-orang yang ingin mengulik kopi, biasanya ia akan membeli grinder. Kemudian timer, termemoter untuk mengukur suhu air. Dan terakhir timbangan. Lama kelamaan ia sudah menjadi seorang kolektor perangkat kopi tapi sayangnya di akhir hari, ia lupa kenikmatan menyeduh kopi."
Alat ketiga yang digunakan Mas Adi adalah Chemex yang konon sudah digunakan sebelum Perang Dunia Kedua. Berbeda dengan Kalita Wave, Chemex menggunakan kertas filter yang lebih besar. Mas Adi menuang air  dengan gerakan memutar, perlahan dan kontinyu. Ini untuk mengaduk kopi yang ada di dalam filter namun dijaga agar tidak tercipta regangan yang terlalu lebar karena akan membuat celah yang dengan mudah akan dilalui air.

http://www.dyahprameswarie.com/2016/05/warungkopi-bersenang-senang-dengan-kopi.html
Chemex

http://www.dyahprameswarie.com/2016/05/warungkopi-bersenang-senang-dengan-kopi.html
Hario V 60


Berikutnya adalah Hario V-60 yang memiliki sudut 60 derajat. Dibanding dengan Kalita Wave dan Chemex, V-60 memiliki filter yang lebih besar.  Jika hasil seduhan Chemex lebih jernih (karena melewati tiga lapis pada filter yang digunakan), hasil seduhan hario V 60 agak sedikit lebih pekat dengan rasa asam khas jeruk yang kuat.

Puas ngobrol panjang lebar tentang empat teknik seduh manual, Mas Adi memberi jeda untuk kami agar bisa menikmati kopi. Baru empat gelas. Gelas kelima berasal dari mesin klasik yang bisa menyeduh dalam jumlahh banyak. Kalau main ke 5758 Coffee Lab, cukup dengan 15.000, kamu bisa minum kopi sepuasnya (refill) dari mesin yang sama.




Berikutnya kami beralih ke mesin espresso yang fotonya ada di awal tulisan ini. Ada tiga jenis kopi yang dihasilkan oleh mesin ini, yaitu Americano dan Long Black atau Luno dalam bahasa Italia. Tapi sebelum mencicipi Long Black dan Espresso, Mas Adi berbaik hati menyeduhkan secangkir cappucinno.

Mas Adi Sedang Menyeduh Cappucinno


http://www.dyahprameswarie.com/2016/05/warungkopi-bersenang-senang-dengan-kopi.html


Obrolan kami tetap seru. Kami ngobrol soal harga mesin espresso, tentang regulasi cappuccino di Italia sana, hinga musuh-musuh kopi yang harus dihindari kalau memang mau menjaga aroma dan cita rasa kopi yang akan kita seduh.

Bahkan juga tentang curahan hati para barista yang sudah membuat seni latte dengan susah payah yang kemudian dibiarkan terongok dingin karena si pemesan justru heboh memotret  dan pamer di media soial. Are you the one? Lol. XD

Itu sebabnya sore itu saya pulang dalam keadaan bahagia tak terhingga. Entah karena mabuk atau karena bertemu dnegan teman baru dan dapat ilmu yang luar biasa. Yang jelas karena efek kafein ya. Hahaha.

Jadi, kisah saya akan sia-sia kalau kamu tidak mampir dan melangkahkan kaki ke 5758 Coffee Lab sendiri. Seperti janji Mas Adi, "Siapa pun boleh datang. Mari belajar dan berbagi." maka saya sarankan untuk segera jatuh cinta pada kopi.

Dan sepertinya hubungan saya dengan kopi akan masuk ke level yang lebih serius. XD

Terima kasih sudah mau Bersenang-senang dengan Kopi di 5758 Coffee Lab Bandung bersama saya. Silakan cari tahu tentang Kisah Tentang Kopi yang Tak Pernah Usai.

By the way, alamat dan peta 5758 Coffee Lab ada di bawah ini ya ^^

5758 Coffee Lab
Perumahan Serba Guna (RuKo) E-1D
Jalan Pondok Hijau Indah Gegerkalong
Bandung

https://maps.here.com/directions/mix/mylocation/5758-Coffee-Lab:-6.861529,107.582663?map=-6.86153,107.58189,17,normal&fb_locale=id_ID&x=ep

11 komentar:

  1. saya suka kopii.. jadi pengen kesana, pengen belajar bikin kopi latte yang cantik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mari, mari. Nggam bakalan nyesel main ke 5758 coffee lab :)

      Hapus
  2. Mabok kopi. :D

    Selalu keren lah tulisannya. (y)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Daaayy, makasih sudah mampir.miss you, Day :*

      Hapus
  3. Wah kopi ada labnya segala ya? :-D

    BalasHapus
  4. Harga kopinya termasuk murah ya mbak..kalau di Lombok paling murah yaa sekitar 20ribu-an..heuheuheu :(

    BalasHapus
  5. Oh ini di gerlong... emg byk yg bilang lbh enak bl biji kopinya aja trus giling sendiri. Cm harga grinder yg bagus juga mehong wkwkw.... buat nikmatin kopi yg enak mmg gak ada yg gratis... kudu punya modal.. eh tp sy masih suka kopi sachet juga kok :)

    BalasHapus
  6. Kalo saya gabisa membiarkan kopi secantik apapuun sampai dingin, langsung sruput sampe abis mba hehe

    BalasHapus
  7. Aku selalu suka kopi tubruk...karena mungkin sejak kecil sudah di cecoki kopi *catet di cekoki
    tapi karena kopi ndeso, jadi ada campurannya jagung ato beras. Kebayang nggak rasanya kopi macam itu? :D

    BalasHapus
  8. halo mbak dyah

    klo saya minum kopi hanya ketika iseng saja, terutama waktu suami saya yang suka banget sama kopi nawarin utk membuatkan saya kopi dengan vietnam dripnya, haha.
    tapi saya akui, kopi ala vietnam drip ini rasanya lebih soft dan enak banget klo dicampur sama susu :D

    BalasHapus
  9. Kalo ke Bandung, suami mesti diajak ke sini, pasti seneng banget *eh tapi kapan ke Bandungnya ? :D
    Catet dulu ah.

    BalasHapus

Terima kasih sudah membaca blog saya. Saya akan senang membaca komentarmu. :)