Tips Mengemas Frozen Food dan Bekal Makan



Mungkin bukan yang terlezat di dunia, tapi masakan bikinan Ibu selalu membawa kenangan manis. Dan segenap rindu yang ada di hati.



Bikin Frozen Food Sendiri, Yuk.

Allow dari akhir bulan yang mendung dan dingin di Cimahi,

Omong-omong soal mendung dan dingin, level keinginan untuk ngemil di rumah saya agaknya semakin tinggi, deh. Akibatnya mau tak mau, saya harus mulai menyetok camilan kesukaan anak-anak. 

Ada yang sama dengan saya, punya kebiasaan menyetok makanan untuk dibekukan agar bisa selamat dari "Hari-Paling-Malas-Sedunia"? Anything about frozen food, I'm in. ini karena saya lebih sering membuat sendiri stok frozen food daripada membeli frozen food buatan pabrik. Sebetulnya membeli frozen food buatan pabrik atau teman juga sering saya lakukan, sih, apalagi kalau memang tidak ada waktu untuk sibuk di dapur.

Selain alasan lebih ekonomis, membuat sendiri stok frozen food juga punya banyak kelebihan. Di antaranya adalah:

1. Kita punya kebebasan untuk memilih bahan yang segar, bersih dan higienis.
2. Bisa menentukan jenis makanan yang dibuat sesuai dengan selera keluarga.
3. Mengetahui tanggal produksi dan memperkirakan batas waktu konsumsi. 
4. Mengemasnya berdasarkan porsi satu kali makan.


Mengemas Frozen Food dengan Plastik 

Nah, seperti yang saya sebutkan di poin 4 tadi, saya punya kebiasaan untuk mengemas berdasarkan porsi satu kali konsumsi karena mengemas frozen food tuh agak tricky. Kalau salah mengemas dan cara handling-nya, frozen food yang sudah kita bikin atau beli, tidak akan bertahan lama alias cepat berjamur (padahal tanggal kadaluarsa masih lama).



Lalu, kenapa mengemas frozen food ini begitu penting buat saya? Penasaran ya? Hihihi. Saya punya dua alasan nih:

Pertama, kemasan plastik yang baik dapat mencegah terjadinya frozen burn alias gosong beku yang biasanya kita jumpai di banyak frozen food. Biasanya ditandai dengan banyaknya bunga es di permukaan makanan dan kemasan plastik. 

Makanya saya memang memilih plastik kemasan yang kualitasnya food grade dan bagus. Karena ini dapat memengaruhi rasa, warna, tesktur dan penampakan fozen food agar tetap menarik. Pengemasan makanan yang baik juga memengaruhi dsikasi, dehidrasi dan oksidasi lemak.




Kedua
saya punya kebiasan mengemas frozen food dalam porsi sekali makan. Misalnya ketika kami selalu mendapat kiriman pempek dari seorang kerabat. Kiriman pempek ini biasanya dikemas dalam jumlah besar dan banyak. Dalam satu plastik besar, bisa memuat satu kilogram. Saya jadi punya ide untuk memisahkan sesuai porsi makan satu keluarga.

Kemasan yang paling baik digunakan untuk mengemas makanan yang akan dibekukan adalah plastik jenis PE (polietilen), plastik PP (polipropilen) dan aluminium foil. Kebetulan plastik yang saya pakai adalah plastik jenis PP atau polipropilen. Plastik jenis ini memiliki ciri khas warna yang bening, transparan dan permukaan yang mengkilat. Merek yang saya gunakan juga merek sudah banyak digunakan di skala RT atau industri, kok. 

Merek plastiknya,  WAYANG. Plastik PP WAYANG ini mudah dijumpai di pasar tradisional (di toko yang menjual bahan plastik atau bahan kue) juga supermarket terdekat. Harganya pun tidak terlalu mahal alias masih sesuai antara harga dan kualitas.


Dengan bahan biji plastik murni, plastik Wayang tidak mudah jebol (sobek) saat dipakai untuk mengemas makanan matang. Apalagi nih ya, kalau sudah diletakkan dalam freezer selama berhari-hari, plastik Wayang masih mempertahankan bentuk makanan dan tidak mudah sobek terkena suhu freezer.

Ketiga,
Pilih plastik yang aman untuk mengemas makanan alias food grade. Alasannya jelas, agar makanan tidak terkontaminasi bahan-bahan yang tidak kita inginkan. Misalnya bahan kimia berbahaya atau bakteri.

Nah, kalau yang ini saya memang percaya pada merek Wayang ini karena sudah bersertifikasi halal (lihat foto di bawah). Jadi sudah tidak cemas lagi untuk mengemas makanan.





Re-use Plastik Bekas Pakai

Bingung bagaimana memanfaatkan plastik bekas pakai? Saya paham kok kekhawatiran teman-teman soal ini. Isu soal bahaya sampah plastik memang sedang gencar-gencarnya diberitakan. Sedih sekali mendengar hal ini.

Nah, untuk meminimalisir sampah plastik dari kemasan makanan ini, saya memilihnya dengan cara menggunakannya untuk fungsi yang lain. Kebetulan saya paling suka berkebun dan menanam berbagai benih yang saya dapat dari sampah dapur. Misalnya seperti biji cabai dan biji belimbing sayur ini. 

Akhirnya, plastik-plastik bekas pakai saya manfaatkan untuk menyemai berbagai biji-bijian yang saya dapat dari sampah dapur. Saran saya, kumpulkan atau pisahkan dari sampah rumah tangga yang lain, agar dapat diolah lagi. Hari gini nih, sudah banyak yang bisa memanfaatkan limbah plastik bekas pakai, loh. Semoga di lingkungan teman-teman juga ada Bank Sampah yang siap mendistribusikan sampah teman-teman ke perajin limbah plastik ya. 

Begitu ya, teman-teman. Sampai jumpa di tips berikutnya. 

Salam,

Dyah Prameswarie

3 komentar:

  1. Keren, Bu Paus. Stok frozen food-nya pun bikin sendiri ya, hehe... Menyimpannya pun juga mesti dalam plastik yang aman untuk makanan ya.

    BalasHapus
  2. ah.. bener mbak dy. idenya cemerlang. iya. kl gak diporsiin gt frozen food jd "kedinginan" lebih keras ya. kalo udah di porsiin, pas mau dimasak malemnya dipindahin dari freezer ke chiler biar lebih mudah defrost. kalo nggak per porsi, masa awet frozen food jd berkurang karena kontaminasi udara yg lebih hangat ya. dih.. aku baru kepikir. kmaren2 baru nge porsi bumbu doang. biar gak colak colek bumbu kalo langsung dikemas bnyak2.

    BalasHapus
  3. Aku sedang otw mau coba metode food prepare gitu, kemas - kemas makanan seporsian gitu. Ada kantong plastik PP wayang ini bantu banget jadi gampang dan ringkes pas bagian misahin per kategori makanan dan porsiannya, udah food grade lagi ya. Paling suka sih karena bening plastiknya.

    BalasHapus

Terima kasih sudah membaca blog saya. Saya akan senang membaca komentarmu. Mohon tidak meninggalkan link hidup ya. :)

Recent

recentposts

Random

randomposts