Resep Tradisional: Soto Betawi




Semangkuk soto betawi lengkap dengan kucuran jeruk purut,
emping yang renyah dan sambal yang menghentak; 
rasanya cukup menjadi penawar hati yang galau.


Haloooo,

Apa kabar semua? Sudah tiba di pengujung akhir pekan panjang, nih. Ke mana saja selama liburan pendek ini?


Dari Mana Datangnya Ide Memasak Soto Betawi?

Kalau saya sih memilih di rumah saja, selonjoran sambil menikmati waktu dengan si kecil. Saya baru balik dari perjalanan ke Kuala Lumpur bersama sahabat-sahabat saya dan pegal di kaki masih terasa. Hihihi. Jadi long weekend ini saya habiskan untuk mengistitahatkan betis yang nyut-nyutan sambil memilih foto mana yang layak pamer di media sosial saya. Tsaaah...

Oh ya, beberapa waktu yang lalu saya berhasil memasak SOTO BETAWI, loh. Saya memakai kata "berhasil" karena selama ini memasak Soto Betawi tapi rasanya belum ketemu yang pas. Meskipun kata suami dan anak-anak rasanya enak, tapi saya belum puas dengan rasanya. Belum seperti rasa soto betawi yang biasa kai nikmati dari warung langganan. 



Nah, ketika srcolling news feed di Instagram, tiba-tiba saya tertarik dengan foto mbak Inov Pelawi yang saat itu memamerkan foto soto betawinya. Foto itu tampak menggiurkan dan sukses bikin saya ingin mencoba resepnya. 

Setelah baca berulang kali (iya, saya terbiasa membaca resep berulang kali sebelum mencoba resep tersebut), akhirnya saya memutuskan untuk segera mempraktikkan resep tersebut. Sampai-sampai saya sempat menunda membuatnya karena ada bahan (cengkih) yang ternyata habis. Hihihi.


Kisah Singkat Soto Betawi

Konon, istilah soto betawai ini mulai dipopulerkan di dunia kuliner Indonesia sekitar tahun 1977 - 1978. Hampir mirip dengan soto sulung, soto betawi juga memakai jeroan sebagai bahan utamanya. Hanya saja, kuah soto betwai menggunakan santan atau susu segar. Ini membuat rasanya semakin gurih dan unik. 

Menurut Wikipedia, nama ini dipopulerkan oleh Lie Boen Po yang berjualan soto betawi di THR Lokasari atau Prinsen Park (yang saya sendiri tidak tahu di mana lokasi ini). Warung soto ini tutup pada tahun 1991 tapi sejak saat itu nama soto betawi semakin populer. 

Jeroan yang biasa dipakai di soto ini adalah kikil dan babat, tentu saja dengan daging berlemak yang membuat rasa sotonya semakin lezat. Yang paling saya suka dari soto ini adalah perpaduan rempah dan gurihnya santan. Belum lagi potongan besar kentang (yang sudah digoreng) dan tomat cincang. Ini menjadi semacam "pembersih" lidah atau kerongkongan yang sudah terkena lemak. 

Kali ini saya memakai daging iga dan kikil, karena tidak menemukan babat sapi yang bersih dan putih. Kalau memang 


SOTO BETAWI



Bahan:

300 gram daging sapi (saya pakai daging bagian iga)
200 gram kikil atau babat (yg nggak suka, silakan skip)
1 batang serai, ambil putihnya dan memarkan
2 lembar daun salam
3 cm lengkuas, memarkan
5 batang cengkih
5 cm kayu manis
Secukupnya air untuk merebus
500 ml santan 
200 ml susu UHT (saya campur menjelang soto disajikan)
Garam
Kaldu sapi bubuk
Merica bubuk
2 helai bawang daun, potong besar untuk kaldu

Bumbu Halus:

8 butir bawang merah
5 siung bawang putih
1 ruas jahe
2 butir kemiri
1/4 sdt jintan sangrai
1/2 sdt ketumbar sangrai
Minyak untuk menumis

Pelengkap:

Emping 
Daun bawang, iris halus
Bawang goreng
Kentang goreng
Tomat, cincang kasar
Jeruk nipis
Sambal

Cara Membuat:

1. Rebus daging dan jeroan terpisah dengan metode 5.30.7. Potong-potong dan sisihkan.
2. Tumis bumbu halus dengan sedikit minyak hingga harum. Masukkan lengkuas, daun salam, serai, cengkih dan kayu manis. Aduk hingga harum.
3. Tuang bumbu ke dalam rebusan daging sapi. Masukkan daun bawang. Rebus hingga bumbu meresap.
4. Tambahkan garam, kaldu dan merica bubuk. Aduk rata. 
5. Tuang santan, aduk rata. Biarkan hingga mendidih dan meresap sambil sesekali diaduk. Cicipi rasa, jika sudah pas, matikan api.
6. Menjelang disajikan: masukkan jeroan ke dalam mangkuk saji, tuang soto saat masih panas dan sedikit susu. Aduk rata. Masukkan kentang dan tomat.
7. Taburi dengan daun bawang & bawang goreng. Sajikan bersama emping dan jeruk nipis.


Selamat mencoba, ya.

Salam,

Dydie Kitchen Hero

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah membaca blog saya. Saya akan senang membaca komentarmu. Mohon tidak meninggalkan link hidup ya. :)

Recent

recentposts

Random

randomposts