Sekolah Dolanan: Mengajari Anak ADHD Membaca


Sometimes real superheroes live in the hearts of small children fighting big battles.  - Anymous
Halo,

Selamat sore yang sejuk selepas hujan besar di Cimahi. Kali ini saya libur dulu kasih resep dan bahas makanan, hihihi. Sebetulnya sudah lama saya ingin menulis tentang Altaz (6 tahun) dan ADHD yang dideritanya, tapi selalu mundur karena saya tahu ini seperti dua sisi mata koin yang berbeda.

Kisah yang saya bagi bisa menjadi informasi positif untuk ibu-ibu di luar sana atau menjadi bumerang yang menyerang keluarga saya sendiri. Mengingat kisahnya agak emosional gitu, hihihi. 

Jadi, saya akan mengisahkan sekilas saja tentang ADHD, bagaimana orang lain memandang anak saya dan pengalaman saya mengajari seorang ADHD yang juga disleksia membaca. Semoga bermanfaat.

Apa Itu ADHD?

Jadi ADHD adalah singkatan dari Attention-deficit hyperactivity disorder alias gangguan konsentrasi dan gerak yang berlebih. Biasanya ditandai dengan perilaku impulsif, hiperaktif dan kurangnya perhatian. 

Jadi, ADHD tidak ada hubungannya dengan kecerdasan. 

Kenapa sampai saya bold dengan ukuran huruf yang besar begitu? Wkwkwk. Karena, sependek pengalaman saya menangani Altaz, di hampir setiap kesempatan, Altaz dianggap tidak cerdas secara akademis. Padahal, hasil tes IQ-nya bagus. IQ Al di atas 100 yang artinya normal mendekati di atas rata-rata. 

Karena gerak yang berlebih tersbeut, konsentrasinya jadi terganggu alias kurang fokus. Nah, di kelas atau kehidupan sehari-hari ini menjadi masalah. Karena ada beberapa informasi penting yang akan Al lewatkan ketika dia tidak fokus. 

Kebutuhan geraknya yang TERAMAT BESAR  juga jadi masalah sendiri buat Al, karena selalu dianggap anak yang nakal, bertingkah dan tidak bisa diam. Padahal, buat Al sendiri sebetulnya dia juga fighting dengan otak dan tubuhnya sendiri agar bisa duduk diam selama sekian menit misalnya. 



Kasarnya nih, mau saya tabokin sampai pingsan pun (amit-amit deh), Altaz tidak akan serta merta "menurut" untuk lalu jadi diam dan kooperatif. Bukan karena dia tidak mengerti arti kata diam atau tidak mengerti perintah, tapi secara tidak sadar otaknya memang memerintahkan tubuh untuk bergerak lebih banyak.

Nah, Al sendiri berada di kondisi ADHD dengan kompilasi disleksia dan impulsif. Dan ternyata ini dialami oleh banyak anak dengan ADHD. Artinya selain kebutuhan geraknya yang besar tadi dan tidak dapat berkonsentrasi, Altaz juga bergerak secara impulsif alias tiba-tiba menurut kehendak hatinya sendiri tanpa bisa berpikir panjang risiko atau akibat dari tindakannya. Misalnya, menyebrang jalan sembarangan ketika melihat Ibu di seberang jalan. 

Untuk disleksia, adalah gangguan perkembangan baca dan tulis yang (lagi-lagi) banyak terjadi di sekeliling kita. Sebetulnya disleksia ini perlu pemeriksaan lanjutan untuk mengetahui seberapa parah anak mengenali huruf, kata dan lain sebagainya. Tapi tanda-tanda yang ada di Al, membuat saya lebih aware masalah ini. 

Contoh disleksia tuh seperti kesulitan membedakan mana huruf M dan N, huruf P dan O, menulis angka 6 sebagai angka 9 dan masih banyak lagi. Gejala-gejala ini ada pada Al, tidak hanya sekali-sekali saja tapi hampir setiap kali. 


Pengalaman Mengajari Al Membaca

That was scary. Lol. Kidding

Jadi, selama setahun ini Al akhirnya home schooling bersama saya di rumah. Kenapa? Karena tidak ada TK yang mampu handle Al dengan ADHD-nya itu. So sad. Hati saya remuk berkali-kali setiap kali kami mendatangi sekolah baru dan trial di sana. 

Keinginannya untuk bersekolah dengan teman-teman tak sebanding dengan drama yang terjadi di sekolah akibat sikapnya yang impulsif dan banyak gerak itu. Sampai-sampai saya sadari bahwa Al juga jenuh dan lelah dengan segala pesan yang kami sampaikan setiap kali ada kesempatan. Misalnya, untuk menyayangi teman, bersikap ramah dan anteng. 

Bayangkan setiap pagi dititipi pesan sebanyak itu untuk anak usia 5 tahun (waktu itu) ternyata membuat Al sedikit stress dan lelah. Akhirnya dengan saran psikolog, saya dan suami memutuskan untuk melakukan home schooling.




Tantangan baru buat saya. Belajar lagi. Menata emosi lagi. Banyakin stok sabar yang sayangnya tidak bisa dibeli secara instan tapi butuh latihan dari banyak kisah yang dijalani. Baiklah. 

Karena tergabung dalam WAG Anak Berkebutuhan Khusus dan sang admin sering sharing bagaimana mengajari anak ADHD membaca (karena anaknya sendiri adalah penderita ADHD), jujur saja, saya jadi khawatir. Khawatir siapa pun yang akan mengajari Al membaca dna menulis nanti, akan sangat kesulitan. Dan buat Al pastinya. Jadi jauh-jauh hari, saya sudah siap dengan kemungkinan terburuk. 

Sebetulnya saya anti mengajari anak membaca. Saya lebih memilih membiasakan anak membaca, seperti menyediakan buku-buku bacaan sesuai usia Al. Dan ini tentu saja sudah dimulai sejak Al bayi dengan buku bantal dan terus berlanjut sampai sekarang.

Serupa dengan semua ibu di muka bumi ini, saya kerap membacakan buku cerita menjelang Al tidur siang atau malam. Bahkan saya sengaja meletakkan buku cerita di semua ruangan agar ia bisa meraih buku cerita dan "membacanya" kapan saja ia mau. Ya waktu itu dia belum bisa membaca rangkaian huruf sih, tapi setidaknya ada keinginan dari dalam dirinya untuk membuka buku dan "membaca".

Nah, hari pertama mengajari Al membaca, saya sudah mewanti-wanti diri sendiri bahwa ini akan sulit dan menyiapkan stok sabar yang BUANYAAAK. Eh tapi ternyata, Al lancar-lancar saja ketika mulai halaman pertama. ALHAMDULILLAH.

Soal tidak bisa diam dan rentang konsentrasinya yang masih pendek sih, memang masih tampak di awal belajar. Saya hanya perlu mengingatkan Al agar ia tetap fokus dan Al akan kembali menekuri halaman yang sedang dibaca. Sesekali saya mencatat kenapa konsentrasinya buyar, misalnya ketika ada suara benda jatuh atau ada yang membuka pagar rumah. Ini mengindikasikan bahwa respon audionya yang sensitif dan akan saya 


- Buku dan Bahan Ajar yang Digunakan

Kebetulan saya pakai buku karya teman sendiri, Teh Tethy Ezokanzo. Cinta banget sama buku ini karena ukuran fontnya yang lumayan besar, membantu anak mudah mengenali huruf, berwarna dan ada gambar yang porsinya tidak mendominasi teks. 


Oh iya, saya sengaja tidak menggunakan meja dan kursi untuk kegiatan home schooling. Melainkan menggantikannya dengan karpet agar ia bebas bergerak. Buat saya belajar tidak harus duduk di kursi, menghadap meja dengan punggung lurus dan tidak boleh bergerak sama sekali. 

Buat saya, anak bebas mengekspredikan dirinya selama kegiatan belajar yang menyenangkan. Yang penting anak nyaman saat belajar. Cinta dulu sama kegiatan belajar yang menyenangka, aturan yang mengikatnya nanti saja, disampaikan pelan-pelan. 

- Pahami Kondisi Anak

Sebetulnya ini sih bagian yang paling sulit, heuheu. Apalagi dengan anak (dan Ibu) yang kondisi moodnya baik turun seperti naik roller coaster 😂. Dengan impulsifitas yang juga naik turun, saya harus bertahan (halah) dengan batas antara  tegas dan emosi. Dan itu susah sekali, Jenderal 😫.

Tapi memahami kondisi anak akan mempermudah langkah berikutnya yaitu menentukan target. Target yang kita tentukan tergantung bagaimana kondisi anak kita. Seberapa lama rentang konsentrasinya, seberapa besar kebutuhan geraknya atau apa yang membuat moodnya stabil. Masing-masing anak ADHD tentu punya kondisi yang berbeda kan, jadi ini yang harus dijadikan catatan.

- Menentukan Target

Karena banyak menyimak bagaimana ibu-ibu istimewa mengajari anaknya (dengan kondisi ADHD)  membaca, sejujurnya saya memang agak khawatir. Khawatir apakah nanti kami akan mengalami hal yang sama, atau lebih sulit. Belum apa-apa, sudah terbayang bagaimana susahnya perjalanan tersebut.

Itu sebabnya saya tidak punya target apa pun. Niat saya hanya mengenalkan bagaimana susunan huruf tersebut membentuk satu kata dan punya makna. Nanti, ketika masuk SD, biarlah proses bersama gurunya yang akan mengokohkan dasar membaca. 

Jadi, saya tidak menargetkan rentang waktu untuk Al agar lancar membaca. Memahami kondisinya yang masih banyak gerak dan rentang konsentrasinya yang masih pendek, saya sama sekali tidak ingin memaksanya.

Begitu juga soal jumlah halaman. Saya tidak menhgaruskan dalam satu kegiatan belajar harus sekian halaman. Satu hari tertentu, kami hanya melaju sangat lambat, setengah halaman. Tapi di hari yang lain, kami bisa membaca hingga dua halaman. Tidak masalah, selama Al merasa nyaman.

- Memenuhi Kebutuhan Gerak Sebelum Waktu Belajar

Yang ini sebetulnya tugas suami. Jadi ketika saya menyiapkan sarapan, suami akan mengajak Al bermain sepeda di luar rumah. Atau hiking tak jauh dari rumah. Yang jelasn, energinya harus disalurkan dan kebutuhan geraknya harus dipenuhi agar Al bisa berkonsentrasi saat waktu belajar berlangsung.

Ada kalanya sang ayah ada urusan mendadak dan Al tidak bisa bermain sepeda dan yang terjadi di waktu belajar adalah chaos! Hahaha. Ibu yang tidak sabaran dan anak yang tidak bisa diam adalah perpaduan yang harus dihindari. Hahaha. 

Kalau sudah begini biasanya konsentrasi Al lebih mudah teralihkan dan kami melaju sangat lambat hari itu.

- Konsisten

Ini adalah tantangan berikutnya. Apalagi kalau bukan kesibukan atau ego saya sendiri. Ketika sedang bad mood, rasanya saya tidak ingin masuk ke "ruang kelas" dan mengajari Al membaca. Atau ketika saya sedang sakit, rasanya hanya ingin bergelung di bawah selimut.

Tapi show must go on. Jadi saya harus bisa mengatur emosi dan mood saya agar kegiatan mengajar tidak ketinggalan. Tidak masalah hanya membaca dua atau tiga kalimat, yang penting Al tahu bahwa pada jam sekian hingga jam sekian, adalah waktunya belajar.

- Menyediakan Banyak Buku Bacaan untuk Early Reader

Sejujurnya saya lupa kapan tepatnya kami memulai kegiatan belajar membaca ini (karena selama home schooling kami banyak mengejar terapi motorik halus dan kasar untuk Al, juga bersenang-senang dengan proyek sains untuk pemula). Mungkin sekitar 4 bulan atau lebih. 

Sekarang Al sudah lebih lancar membaca dan mulai senang membaca kata atau kalimat apa saja yang ia temui di jalan atau buku. Untuk anak ADHD dengan track yang sudah saya jelaskan di atas, ini adalah langkah besar untuk Al. Prestasi banget dan saya bangga pada Al, karena ia mau bekerja sama  selama proses belajar. 

Dan rasanya tidak adil kalau saya "menuntutnya" membaca tapi tidak menyediakan buku bacaan. Dan saya ingin ia gemar membaca buku apa saja, tidak sekadar buku pelajaran (yang bagi saya membosankan, wkwkwk.). Saya ingin Al punya referensi bacaan dan bersenang-senang dengan bacaannya.

Jadi, saya memutuskan untuk menyediakan bahan bacaan untuk early reader atau pembaca pemula. Biasanya buku-buku seperti ini mempuya banyak gambar (sekitar 80%) dan kalimat pendek dengan kata yang mudah dimengerti. 

Pilihan saya jatuh ke lima buku bacaan ini. Meski kalimatnya pendek, tapi halamannya lumayan banyak. Jadi Al butuh waktu lebih lama menyelesaikannya. Nggak apa-apa sih buat saya, yang penting adalah dia sudah mau membuka dan membacanya sendiri tanpa saya minta. Proud!

Itu sebabnya, buku-buku ini saya letakkan di ruang TV, sebelah tempat tidur, ruang tamu bahkan dapur. Hihihi. 

Nah, itu pengalaman saya mengajari Altaz yang ADHD dan juga disleksia. Prosesnya memang nggak mudah dan rada pening ketika dia masih belum bisa membedakan mana M dan N, O dan P, N dan H, P dan D, B dan P ketika huruf-huruf tersebut ada di dalam satu kata. Tapi alhamdulillah bisa diatasi dengan memberitahunya berkali-kali. 

Ada yang punya pegalaman samakah? Atau ada yang punya rekomendasi buku cerita untuk early reader? Share di kolom komentar, yuk.

Salam,

Dyah Prameswarie




1 komentar:

  1. Selamat ya Al, aku terharuu bu paus..
    Moga Al jadi banyak tahu dan menggenggam ilmu pengetahuan yg bermanfaat..
    Aku kebayang klo bapak paus lg nggak bisa menemani, pasti bu paus chaos 😝 butuh ngupiii

    BalasHapus

Terima kasih sudah membaca blog saya. Saya akan senang membaca komentarmu. Mohon tidak meninggalkan link hidup ya. :)

Recent

recentposts

Random

randomposts