Generasi Micin yang UMAMI




"Biasa deh, genereasi micin memang begitu."
"Kebanyakan makan micin deh kayaknya!"

And me be like...apa salah micin sampai sebegitu julidnya netizen? Saya nggak rela kalau micin dikambing hitamkan 😅😅

Suatu Waktu Ketika UMAMI Pertama Kali Ditemukan

Adalah Ilmuwan Jepang, Kikunae Ikeda yang penasaran dengan rasa gurih yang didapat dari kuah dashi. Pada setiap masakannya, Kikunae Ikeda meambahkan kombu (sejenis rumput laut), yang membuat rasa masakannya terasa lebih lezat dan nikmat. 

Hingga di tahun 1908, beliau menemukan komponen utama pada kombu yang ternyata adalah asam glutamat. Tak berhenti di sana, DR. Kikunae berusaha mengenalkan rasa UMAMI yang ia temukan hingga nasib membawanya mempresentasikan UMAMI di The 8th Internasional Congress of Aplied Chemistry di Washington, USA. 

Usahanya tak sia-sia, karena di tahun 1985, UMAMI diakui sebagai citarasa dasar kelima oleh kalangan ilmuwan dunia.

Jadi, Apa Itu UMAMI?

Kalian yang mengikuti dunia kuliner pasti hapal bahwa di luar negeri, sepinggan hidangan mesti mengandung kelima rasa dasar yaitu asin, manis, asam, pahit dan gurih. Dengan memainkan tampilan dan tekstur, sebuah hidangan bisa saja mengandung kelima rasa ini. 



Jadi, UMAMI adalah rasa gurih yang melengkapi keempat rasa dasar tadi. Rasanya tuh pas, gitu. Gurihnya bukan hanya gurih dari satu bahan makanan tertentu tapi gabungan berbagai bahan dan rasa. Duh, susahnya menjelaskan rasa UMAMI, hihi. 

Pernah tahu anime Jepang yang 'terbang' ke angkasa setelah mencicipi satu hidangan? Nah, seperti itulah kira-kira kalau lidah kita merasakan UMAMI yang sesungguhnya. 


Amankah MSG?

Jujur saja, saya tidak pernah menambahkan vetsin, micin, MSG -or whatever they called it- ke dalam setiap masakan yang saya buat. 

Tapi hidup saya juga nggak bersih, bersih amat dari yang namanya MSG, kok. Loh, kok bisa?

Ya, karena saya masih memakai saus tiram, saus inggris, soy sauce, minyak wijen, kaldu bubuk dan bahan lain untuk mendapatkan rasa UMAMI tersebut. Dan saya yakin, mereka menambahkan MSG ke dalam produk mereka untuk membantu menguatkan rasa. Karena...

Glutamat adalah koentji.




Kebetulan beberapa waktu lalu saya mengikuti Blogger Gathering bersama Ajinomoto yang bertempat di Kapulaga Indonesia Bistro, saya beruntung mendengarkan Prof. Suwiyatno, seorang Guru Besar Rekayasa Proses Pangan ITB yang mematahkan banyak mitos dan kesalahkaprahan dalam isu MSG ini.



Jadi menurut beliau, glutamat ini ditemukan dalam bahan-bahan alami yang sering kita konsumsi, misalnya tomat, jamur, keju parmesan, soy sauce (apa kataku!) dan kentang. Sebetulnya masih banyak bahan-bahan alami yang mengandung glutamat. 



Bahkan, ASI atau air susu ibu juga mengandung glutamat! Nah loh! Masih mau menolak glutamatkah? Bukankah ASI adalah sumber asupan gizi yang paling baik di dunia ini?

Balik lagi ke glutamat ya. Meski banyak terdapat dalam bahan-bahan alami, namun kita tidak akan mendapatkan rasa UMAMI yang sempurna. Salah satu penyebabnya adalah proses pengolahan yang terkadang tidak diperhatikan sehingga cita rasa alami dan kandungan gizi di dalam bahan makanan tersbeut justru hilang. 

Nah, di sinilah peran MSG, Bu, Ibu. MSG terbuat dari tetes tebu yang difermentasi (tahu kan ya fermentasi ini lazim digunakan dalam proses pemuatan tempe, tape atau oncom), fungsinya sebagai penguat rasa UMAMI tadi. 

Jadi, amankah MSG? 

Menurut Prof. Suwiyatno dan merujuk pada banyak jurnal ilmiah lainnya, MSG AMAN DIKONSUMSI. 

Nah, infografis di atas ini bisa jadi gambaran untuk menjelaskan pendapat ilmiah tadi. Bahwa setelah diteliti, tidak ada perbedaan kimiawi dalam ion antara bagan alami (yang mengandung glutamat) dengan glutamat yang ada di dalam MSG. 

Manfaat MSG

Memangnya apa manfaat MSG? Ternyata banyak, loh. Berikut ini saya sertakan kutipan dari buku Review Monosodium Glutamat: How To Understand It Properly (Primer Koperasi Ikatan Dokter Indonesia, 2018)

  • Memperkuat rasa pada makanan.
  • Menambah intensitas pada rasa makanan.
  • Mempertinggi karakteristik rasa pada makanan.
  • Mempertinggi rasa khas pada makanan jensi daging (ayam, sapi atau kambing).
  • Mempunyai efek yang sama pada rasa kaldu daging meskipun tidak memberikan efek aroma.
  • Menambah kelezatan makanan.


Ambang Batas Penggunaan MSG

Soal seberapa banyak pemakaian MSG yang direkomendasikan ahli, nih ya. Prof. Suwiyatno menjelaskan bahwa ini tergantung pada kebutuuhan dan kondisi tubuh masing-masing orang. 

Beliau juga menegaskan bahwa pemakaian yang berlebih juga tidak disarankan  karena apa pun yang berlebihan juga tidak baik untuk tubuh. 

Setuju, Prof!

Jadi pemakaian MSG ini kembali pada Bu Ibu sekalian ya. Apakah memang dirasa perlu menggunakan MSG untuk mendapatkan rasa UMAMI yang wagelaseh atau tidak. 

Dan kalau memang mau mulai menggunakan MSG, saya sarankan menggunakan Ajinomoto karena merek yang satu ini sudah terjamin kehalalannya. Bahkan, sertifikat halal dari MUI ini terus diperbarui setiap dua tahun sekali.

Bukan itu saja, Ajinomoto yang mulai diproduksi oleh PT. AJINOMOTO Indonesia pada tahun 1969 ini juga telah memperoleh sertifikat yang sudah diakui dunia yaitu HACCP (Hazard Analysis 7 Critical Control Point dan ISO 9000. 

Dathu Rembulan dan Kisah MPASI-nya

Saya nggak terlalu mau mengenal selebriti dan kisah hidupnya ini baru tahu kalau di dunia influencer ada seorang wanita cantik yang bernama Dhatu Rembulan. Dikenal sebagai influencer dan juga istri dari Tria Changcuter, Dhatuu berbagi pengalamannya ketika membuat MPASI untuk anaknya. 



Dhatu mengaku ia kerap menambahkan sedikit saja MSG ke dalam MPASI yang ia buat. 

Wait a minute!
Is she serious?

Dan betulan dia nggak main-main loh. Dathu mengaku ia ingin mengeksplorasi indera rasa pada anaknya. Ia lebih memilih MSG dari pada gula dan garam yang cenderung lebih berbahaya untuk tubuh agar anaknya memperoleh variasi cita rasa. 

Duh, kok nggak kepikiran ya waktu anak-anak masih bayi? Dulu saya masih kurang update dan terkena jebakan hoax nih kayaknya. 

Kreasi Rasa UMAMI bersama Chef Deny

Di penghujung acara Chef Deny Gumilang mengajak pesert auntuk menambahkan UMAMI pada dua masakannya, yaitu Mi Kocok dan Steak Ayam Sambal Matah. 




Tanpa sungkan, Chef Deny menambahkan sejumput AJINOMOTO ke dalam dua masakannya itu. Setelah matang, kami semua dibolehkan mencicipi. Rasanya? UMAMI!


Mi Kocok ala Chef Deny. Foto by Rara Febtarina


Begitu ya ulasan kali ini. Semoga berguna dan memberi pencerahan, jangan lupa berkerasi dengan Ajinomotonya.


Salam,

Dydie Kitchen Hero

21 komentar:

Putu Ayu Winayasari mengatakan...

Weleh, ternyata ngga bahaya ya.. keburu parno gara2 banyak dengerin yg salah, wkwkwk

Happy mommy mengatakan...

saya juga ga pernah pake vetsin, MSG lain2nya tapi pake saos tiram haha, sama aja ya? Makasih banget teh, ini pencerahan sekali buat saya yang juga mengkambing hitamkan MSG apalagi vetsin / micin

Sandra Hamidah mengatakan...

Lucu banget judulnya, berkat acara ini kita jadi tau dan ngga panik lagi ya teh soal makan hehhe

Nia Haryanto mengatakan...

Aku generasi micin. Tar mah, kalo ada yang suka nyinyirin generasi micin begini-begini karena kebanyakan makan vetsin jadi begitu, aku bakal suruh baca artikel ini. Biar mereka pada gabung jadi generasi micin juga. :D

Nathalia DP mengatakan...

Pantes ya bayi doyan banget ASI, soalnya mengandung MSG hihihi...

Ida Tahmidah mengatakan...

Iyaa nih saya juga selama ini hanya berdasarkan katanya...katanya .sampai segitunya benci mecin tanpa tau kebenarannya :)

Vanisa Desfriani mengatakan...

micin yang gak sembarang micin ya teh 😃

Putu Ayu Winayasari mengatakan...

Nah iya.. jadi aku akan dengan lega hati pake micin lagi, hihihi

Raisa Hakim mengatakan...

Pas baca ini aku langsung ganti merk micin dirumah penasaran seumami apa nanti hasil masakanku 😍

Jujur aku bukan orang yg anti micin 😭 sempat waswas juga karena aku pernah kasih micin buat mpasi anak aku soalnya pas aku cobain kok kurang 3nak anak gak semangat alhamdulillah ternyata gak apa-apa ya teh. Dalam Al-Quran juga kan jelas asalkan gak berlebihan insyaallah gak apa 😘

Zahra Rabbiradlia mengatakan...

Serius nambahin msg ke mpasi? Huaaa mind blowing!

Lendy Kurnia Reny mengatakan...

Dulu pas pelajaran Kimia Industri, aku juga dapat pemahaman baru mengenai MSG.
Bahwa penambahan dalam batas wajar, maka boleh-boleh saja.
Bahkan zat ini termasuk yang dibutuhkan oleh tubuh. Bukan hanya dari segi rasa...

((tapi juga jarang pake siih..hahha...karena jarang masak))

Nia Haryanto mengatakan...

Aku udah jarang pake MSG. Lebih suka kaldu bubuk kayak Masako. Wkwkwkwk... sama aja kan itu juga MSG. :D

Bibi Titi Teliti mengatakan...

Netyjen mah sukanya gitu, dikit-dikit salahin micin,
Padahal micin kan enaaaaak! Hahahaha

Aku juga kalo masak suka puruluk msg dikit Teh, biar makin manteb :))

Ulu mengatakan...

Mhahahaha judulnya bagus, teh! Di rumah masak masi pake royco sih ahahaha

Gita mengatakan...

Kehadiran micin asalkan ga berlebihan mah its oke sepertinya. Asalkan jgn addict aja ya hehe

herva yulyanti mengatakan...

nah teh serius nih Dhatu pakein MSG buat MPASI?aku jadi tergoda pengen tahu menu2 MPASI ala Dhatu deh ini penting banget nih secara aku lagi memasuki dunia MPASI

Tian lustiana mengatakan...

Kasian Micin banyak disalahin yaaa huhuhu.

Sri Al Hidayati mengatakan...

Waah mau dong mie kocoknya *salah fokus* haha.. seger kayaknya abis ujan gini.. 😋 msg itu menguatkan rasa emang iya banget jadi manteppp

Uwien Budi mengatakan...

Hidup hambar tanpa micin. Dulu aku pernah nggak pake micin sama sekali pas masak, tapi mikir lagi "lah, jajanan sebangsa taro kan pake micin". Yaudah sekarang pake micin lagi.

Larasatinesa mengatakan...

MSG itu masih aman dikonsumsi ya teh, asal tidak berlebihan. Untunglah masih diperbolehkan, I can't imagine live without micin atuhlah.. hampaaaa 😂

Euisry Noor mengatakan...

Semasih tahunya micin itu gak bagus dikonsumsi juga tetep aja sudah lepas dari bahan yg satu ini, hehe...
Btw bisa yah MSG buat MPASI... Ga kepikiran.

Recent

recentposts

Random

randomposts