Kamis, 17 September 2015

Real High Tea Challenge with Dilmah










“Rainy days should be spent at home with a cup of tea and a good book.”
Bill Watterson, The Calvin and Hobbes Tenth Aniversary Book




Duh, siapa sih yang nggak suka teh? Apalagi dengan rintik hujan dan buku bagus yang bisa menerbangkan kita ke tempat dan waktu yang lain. Saya sendiri suka sekali dengan teh dan terbiasa menyesap teh sehabis Subuh. Hening, sunyi dengan secangkir teh itu mendamaikan pikiran dan perasaan.

Pertengahan Agustus lalu saya diundang oleh Dilmah Tea untuk mencicipi teh dan mengenal lebih dekat produk Dilmah. Syukurlah saya pernah mengonsumsi teh ini, tapi banyak juga yang belum saya tahu. Misalnya tentang pemilik, passion dan varian lain. Ternyata, tahun ini mereka juga punya acara besar yang keren banget. Semuanya saya tuliskan di post ini.
 
Tentang Dilmah 
 
Teh. 
Inggris.
Sore hari.
Gabungan apa sih yang tercipta dari kata itu? Yup, afetrnoon tea time alias jamuan minum teh di sore hari. Kebiasaan ini kesannya memang berhubungan dengan budaya orang Inggris atau eropa ya? Padahal mereka nggak punya kebun teh sendiri karena iklim di sana yang cenderung dingin dengan empat musimnya itu.

Asal tahu saja, bahwa Inggris dan juga mendapatkan teh terbaik dari negara lain seperti Cina, Jepang dan Sri Lanka. Bagaimana dengan Indonesia? Ternyata Indonesia tercatat sebagai sepuluh  negara penghasil teh di dunia loh. Sayangnya tingkat konsumsi teh masyarakat Indonesia masih rendah. 




Dilmah sendiri adalah salah satu produsen terbesar di dunia yang berasal dari Sri Langka. Pemiliknya, Merrill J. Fernando, memiliki passion yang kuat untuk bisa membawa hasil teh di Ceylon menjadi produk yang mendunia. 

Di tahun 1988, Merril meluncurkan produk teh pertamanya yang diberi nama Dilmah. Dilmah sendiri berasal dari gabungan nama dua anaknya, yaitu Dilhan dan Malik. Sejak pertama kali Dilmah diluncurkan di Australia, Merril menawarkan kualitas daun teh terbaik yang pernah ada. Kenapa? Karena Dilmah dibuat hanya dari pucuk teh terbaik yang dipetik dengan cara tradisional, merupakan single origin tea alias teh terbaik tanpa campuran dan dikemas secara garden fresh alias di tempat pemetikan.


Add caption


Ngomongin soal afternoon tea time, ternyata ada istilah yang baru saya kenal yaitu HIGH TEA. Masih acara minum teh sih, tapi ternyata berbeda jauh meski masih sama-sama berasal dari Inggris. 

Afternoon tea biasa disebut dengan  low tea karena menggunakan meja kopi (coffee table) yang merupakan kebiasaan bangsawan Inggris di tahun 1800-an. Saat itu afternoon tea diadakan antara pukul tiga atau empat sore. Untuk menemani nge-teh cantik (atau ganteng), mereka membuat panganan kecil yang tidak terlalu mengenyangkan seperti finger sandwich atau kue tart yang kecil.

Sedangkan high tea berhubungan dengan para buruh yang di abad ke-18 sellau pulang dengan keadaan lapar padahal makan malam masih jauh. Untuk mensiasati ini, mereka minum teh ditemani makanan yang lebih berat alias mengenyangkan. Kenapa disebut high tea? Karena mereka minum teh dan makan di meja yang tinggi atau meja makan.

Nah, karena latar belakang itulah Dilmah Tea Indonesia mengadakan Real High Tea Challenge Cafe & Restaurant di dua kota besar di Indonesia, Jakarta ( 1 - 2 September 2015) dan Bandung (7 - 8 September 2015). Dilmah ingin masyarakat Indonesia punya kebiasaan minum teh karena berbagai alasan. Misalnya saja, alasan kesehatan dan manfaat di dalam teh, lalu dengan acara minum teh keakbraban juga bisa terjalin loh. Selain itu, kalau masyarakat Indonesia sudah punya kebiasaan minum teh seperti kebiasaan minum kopi, siapa tahu dauh teh berkualitas produksi Indonesia bisa jadi tuan rumah di negara sendiri.

Dilmah Real High Tea Challenge (selanjutnya disingkat RHTC) untuk kafe dan restoran ini baru pertama kali digelar. Sistemnya adalah rely challenge, yaitu juri yang akan menyambangi setiap kafe (atau restoran) dalam satu hari. Juri yang terlibat dalam acara ini adalah Ms. Eliawaty Erly dan Chef Nanda Hamdalah.
Saya bersama MS. Eliawaty Erly

Saya dan Chef nanda Hamdalah




Setiap kafe atau restoran yang mengikuti RHTC ini wajib menyajikan beberapa kriteria, sebagai berikut:

  1.  Straight in loose leaf served hot. Artinya, setiap peserta wajib menyajikan  teh yang diseduh di depan juri dalam keadaan panas. Teh yang diseduh merupakan teh murni bukan teh infusi. Teh ini harus disajikan dengan satu jenis makanan baik main course ataupun side dish.
  2. Cold Cocktail or Mocktail, yaitu teh yang berbasis alkohol atau non alkohol yang lagi-lagi harus disajikan dengan satu jenis makanan.
  3. Tea Inspired Cuisine alias makanan yang berbasis atau mengandung teh (terinspirasi dari teh). Khusus yang ini, peserta tidak perlu menyajikannya dengan teh.

Untuk wilayah Bandung sendiri ada delapan kafe dan restoran yang mengikuti RHTC ini, yaitu:
  1. Porto - World Culinary Adventure Restoran yang terletak di jalan Setiabudhi ini hadir dengan tema Kelahiran dan Kehidupan sesuai dengan nama Porto sendiri yang artinya pelabuhan. 


     
    Selamat datang di Porto!

    Cocotte De Soumon sajian dari Chef Eric Lowell

  2. Kirbs Tea Room & Pastry. Saya rasa Kirbs adalah satu-satunya kedai teh yang ada di Bandung! Serius. Karena hampir semua sudut kota ini memiliki kedai kopi, jadi kehadiran Kirbs benar-benar unik. Di acara RHTC ini Kirbs menggusung tema Alice in Wonderland lengkap dengan pirnati teh yang lucu. Apalagi ditunjang dengan kepiawaian Chef Clair yang memiliki passion kuat di dunia teh.
    Scones terbaik yang pernah saya makan!

    Ms. Clair dari Kirbs sedang menyajikan teh kepada para juri.
    Table set for high tea at Kirbs


  3. Javana Resto adalah resto yang terletak di Paris van Java Mall. Saat kami meliput acara RHTC, mereka menyajikan makanan khas Bandung yaitu colenak yang levelnya sudah dinaikan, Javana Colenak Napoleon.
    Javana Colenak Napoleon

    Para juri sedang menyimak presentasi dari Chef di Javana Resto
  4. The Peak Resort Dining - sayangnya saya tidak meliput acara RHTC di The Peak.
  5. CocoRico Cafe & Resto - Resto ini terletak di Jalan Bukit Timur No.19 Bandung. CocoRico menyajikan Indonesia Traditional Platter sebagai menu pembuka, main course berupa steak dan jamur yang disajikan dengan saus berbahan dasar teh serta panacota sebagai menu penutup.
    Welcome to CocoRico

    Cepot is welcoming teh judges
  6. L'Societe Dine & Bar - Dengan Simon Baudoin sebagai executive chef, resto sekaligus bar ini menyajikan makanan dengan gastronomy style dengan penyajian yang cantik. Sayangnya saya tida bisa mencicipi hidangan di sini karena menu utamanya mengandung daging babi.
    Chef Simon Baudoin sedang menyajikan hidangan ke para juri

  7. Chubby Bunny Tema yang diusung Chubby Bunny adalah Mad Hatter's Tea Party. Karena temanya "high tea", maka yang disajikan adalah berbagai panganan seperti pie dan pastry.
    Welcome To Chubby Bunny

    Strawberry and blueberry pie from Chubby Bunny
  8. Ozt Cafe - Sayangnya saya juga tidak meliput HRTC di Ozt cafe.

Dari kedelapan kafe dan restoran di atas, hanya enam yang saya kunjungi. Untuk detail masing-masing resto akan saya tulis di postingan terpisah ya. ;)




9 komentar:

  1. wih kece emang tuh chef Nanda eh maksudnya Real High Tea Challenge nya :D

    BalasHapus
  2. teh Dilmah memang bedaaaaa banget ... ya iyalah, harganya jg getok kantong... Tp sesekali memang boleh lah... dan gak nyangka bisa jadi bahan utk bikin makanan yg enak ya ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup, bisa dijadikan saus steak atau dicampur bumbu gado-gado ternyata :D

      Hapus
  3. Keren banget mbaaa :) :) :)😍😍😍😍, diundang sm Dilmah ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaa. Mbak Dilla sudah jadi anggota Idfb belum? Banyak acara menarik di sana :D

      Hapus
  4. Wahhhh....keren review untul tempat-tempatnya nih, ane patut kunjungi tuh...;) Dyah, kamu memang luar biasa.....

    BalasHapus

Terima kasih sudah membaca blog saya. Saya akan senang membaca komentarmu. :)