Sabtu, 01 Oktober 2016

Gelas Ke ... Di 5758 Coffee Lab





Terdiri dari apakah hari Minggumu?

Kali ini, saya tengah beruntung. Hari Minggu saya terdiri dari aroma kopi, cuaca mendung dan seekor kucing yang bergelung manja di kaki. Sementara di dalam sana, teman-teman baru pecinta kopi sedang menunggu.

Iya, saya sedang berada di 5758 Coffee Lab. 

Ini kali kedua saya berkunjung ke 5758 Coffee Lab. Dinamakan coffee lab karena kedai kopi ini mengajak siapa pun untuk belajar kopi. Dari mengenal sejarah kopi, hingga percobaan-percobaan "nakal" menyeduh kopi.

Setelah sebelumnya bersenang-senang dengan kopi di kelas Coffee for Fun, kali ini saya datang untuk Kelas Seduh Manual. Um'um, saya tahu, kesannya kok gaya banget ikutan kelas yang lebih serius, kelas yang mmm ... tampaknya untuk orang-orang pecinta kopi (banget). Kepalang tanggung, mari masuk dan menikmati bergelas-gelas kopi. ;)

Mengenal Beragam Jenis Kopi

"Dy, gue baru tahu kalau kopi itu ternyata ada dua. Robusta dan Arabika," celoteh seorang teman suatu hari.

Saya, yang sebelumnya antusias menemuinya karena ia baru saja kembali meliput tentang kopi, langsung memberikan wajah "yaelah-ke-mana-aja-lo-selama-ini". I mean, c'mon ... yang bukan pecinta kopi saja tahu kalau kopi ada dua jenis, Arabika dan Robusta. Itu namanya pengetahuan umum, babe, ada di RPUL. Nyahahaha. 

Yang tidak ada di Rangkuman Pengetahuan Umum Lengkap alias RPUL tadi adalah ternyata jenis kopi itu buanyaaak. Dih, makin bingung kan? 

Mas Adi W. Taroepratjeka membuka kelas pagi itu dengan fakta bahwa terdapat 66 spesies kopi di seluruh dunia! Dan hanya tiga yang ditanam secara komersil yaitu Arabika, Robusta dan Liberica (Exelsa).



  • Arabika berasal dari Ethiopia yang tumbuh di ketinggian 700 - 1.700 m dpl. Kualitas, cita rasa dan harganya relatif tinggi dibandingkan kopi lainnya. Penikmat Arabika meng-klaim bahwa kopi ini memiliki cita rasa buah-buahan (fruity) dan bunga (flowerly).
  • Robusta masuk ke Indonesia sejak tahun 1900 dan sejak itu mendominasi perkebunan kopi di Indonesia. Konon, Robusta bercita rasa seperti cokelat, kacang (nutty) dan tanah (earthy).
  • Liberika berasal dari Angola, masuk ke Indonesia sejak tahun 1965. Karakteristik kopi ini adalah ukuran daun dan cabanganya yang lebih besar dari kopi Arabika dan Robusta.

Seduh Manual

Hari itu kami akan mencoba cara seduh manual dengan tiga alat yang berbeda. Ada V 60, Kalita Wave dan Aero Press. Di kelas Coffee for Fun beberapa waktu yang lalu, saya sudah mencoba rasa dan aroma kopi yang diseduh dengan V 60, Kalita Wave dan Frensh Press. Jadi penasaran dengan Areo Press.

Sebelum ke acara puncak which is coba-coba seduh sendiri dengan ketiga alat tersebut, mas Adi terlebih dulu mengenalkan parameter seduh, termasuk di dalamnya flow rate. Jadi, parameter seduh ini menentukan hasil akhir atau rasa kopi seduhan kita.

  1. Jumlah kopi
  2. Tingkat gilingan
  3. Temperatur air
  4. Alat seduh
  5. Teknik tuang
  6. Flow rate




"Oke, sebelum kita bersenang-senang dengan alat seduh manual di tiga station berbeda, saya akan tunjukkan cara menyeduh menggunakan alat yang pertama," seru mas Adi.

Peserta yang sudah penasaran dan dengan wajah-wajah haus kopi langsung mengerubungi station pertama. Mas Adi langsung menyeduh V 60 dan membagikan gelas-gelas kopi kepada kami. Beberapa orang menganggukkan kepala, beberapa lagi menyeruput kopi hingga bersuara dan saya "tunduk" pada gelas pertama.

Kemudian terdengar selorohan mas Adi, "Eh, gue mau nanya. Pelanggan elo kalau minum kopi diseruput gitu enggak, sih? Enggak kan?"

Kemudian sekelompok anak muda (tsaaah) yang tadi menyeruput kopinya hingga bersuara menundukkan kepala. Hahaha.

Akhirnya, kami membagi diri dalam beberapa kelompok dan memilih station berbeda. Saya, Dedes dan entah siapa lagi (dia kabur dan main ke station lain terus sih. lol.) memutuskan untuk bergabung di station paling ujung, yaitu meja dengan V 60.

Saya dan Dedes -yang entah kenapa menolak difoto- mencoba flow rate yang berbeda. Saya, mencoba tidak membasahi kertas filternya, menuang perlahan dengan jeda. Sementara Dedes sebaliknya. Ia membasahi kertas filter dan menuang secara kontinyu. Hasilnya? Berbeda loh!

Kata Obiet -barista baik hati di 5758- kopi seduhan saya cenderung lebih manis dibanding punya Dedes. Rasanya juga light.

Percobaan kedua, kami bertukar flow rate. Dan ... voila! Percobaan kedua ini menghasilkan kopi yang sedikit bold (tebal).

Gelas Ke Sekian 

Begini, di setiap station atau meja hari itu terdapat banyak gelas, beberapa orang dan banyak sekali percobaan "nakal". Celakanya, ini adalah perpaduan mematikan yang membuat beberapa orang mabok kopi. Yup!

Bagaimana tidak, setiap orang yang berkumpul di satu meja (ada empat hingga lima orang) mencoba menyeduh dengan cara yang berbeda dan flow rate yang berbeda pula. Ketika selesai menyeduh, teman-teman yang lain akan menyodorkan gelas kosong. Puas menikmati seduhan dan menganalisa rasanya, teman lain akan mencoba menyeduh. Yang lain menunggu sambil mencengkeram gelas masing-masing yang akan kembali disodorkan ketika seduhan sudah siap. Begitu terus, sampai kami berganti ke meja lain dan mengulang hal yang sama.





Bayangkan saja ketika ada 12 orang dalam satu kelas, setiap orang menyeduh dengan tiga cara berbeda, kira-kira berapa gelas tuh kopi yang sudah kami tegak? Hitung saja sendiri. Dalam catatan saya, saya menegak 20 gelas kopi sepanjang hari itu. Superb!

Di pengujung hari, mas Adi dan Obiet menyeduh menggunakan V 60 dengan metode sepertiga. saya yang baru memulai hubungan dengan kopi kembali mengerutkan dahi. Apa lagi ini sepertiga? Oh, ternyata, mereka menyeduh secara kontinyu di setiap sepertiga waktu penyeduhan. Sepertiga di awal, sepertiga di tangah dan sepertiga di akhir. Masing-masing memiliki rasa yang berbeda.



Dari ketiga alat seduh manual tersebut, saya paling suka dengan teknik Aero Press menggunakan air dingin. Badass banget! I should buy that Aero Press kinda thing someday.

Hari itu kami pulang dengan banyak kisah baru yang diantarkan oleh kopi, emas hitam dari Jawa, begitu dulu orang Belanda menyebutnya.

Kalau kamu tertarik mengikuti Kelas Seduh Manual seperti saya, silakan hubungi 5758 Coffee Lab di bawah ini ya ;)

5758 Coffee Lab
Perumahan Serba Guna (RuKo) E-1D
Jalan Pondok Hijau Indah Gegerkalong
Bandung

Sebelum itu, coba cari tahu kisah saya Bersenang-senang Dengan Kopi atau Kisah Tentang Kopi yang Tak Pernah Usai.

Salam kopi,

Dyah Prameswarie


23 komentar:

  1. ya ampun, nyeduh kopi itu ternyata banyak caranya ya dan hasilnya berbeda2...

    BalasHapus
  2. Tahap demi tahap penyeduhan kopi banyak ya, pantes aja harga kopi di coffe shop mahal, tapi sebanding juga dengan rasa yang enak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, mbak. Semoga harga yang mahal membuat petani kopi makin sukses. :)

      Hapus
  3. Makasih teh dydie sharingnya, kebetulan lagi pengen tau banyak juga tentang kopi. Worth it banget baca ini. Ditunggu share di kelas berikutnya. Hehehehe

    BalasHapus
  4. Ternyata menikmati kopi itu ada cara dan sensasinya ya mba. Kebayang rasanya serunya disana.

    BalasHapus
  5. Aaaaw, kembung kembung deh tuh, yang punya magh kayak saya.

    Baca postingan ini, saya jadi teringat kebun kopi ortu di kampung. Robusta, Arabika. Kadang bantu metik. Kadang bantu ibu memroses sampai jadi kopi seduh. Enak, apalagi campur durian. Paling enak kalo sruputnya pake suara, haha... Sruuuup, aaaah.... :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aaaahh, aku mau dong diajak ke kebun kopi orang tuamu, Izzah :)

      Hapus
  6. pengen euyyy belajar jd barista. tapi sekolahnya lama ya. selain brewing disitu diajarin apa lagi mbk. btw.. aku suka kopi. menurutku penyuka kopi itu romantis dan suka begadang*ngarang bgt.hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku setuju soal romantis itu, hihihi

      Hapus
  7. Kopi yg aku nikmati bulan ini adalah kopi Banyuwangi dg perpaduan 30% arabika dan 70% robusta. Seduh biasa sesendok teh kopi ke dalam secangkir kopi (cangkir kopi espreso) ditambah air mendidih. Minumnya ketika hangat atau dingin. Alhamdulillah, maag ku enggak kambuh, magic yaaa.. hehehe

    BalasHapus
  8. Saya selalu suka baca postingan Mbak Dydie soal kopi. Lanjutkan mbak! :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah, kamu. Pinjem kameranya dong, biar fotokopiku makin cetar :D

      Hapus
  9. Baru tahu ada kelas seduh kopi manual.. Jadi, metode dan flow rate yang berbeda menghasilkan rasa yang berbeda ya mbak? Ternyata rasa kopi itu bukan hanya berbeda menurut takarannya ya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beda suhu air pun bisa berbeda, hihihi

      Hapus
  10. Wedeww...kalo aku deket situ, bakalan lama ngendon di situ, ngopi teroos :p

    BalasHapus
  11. Duh, aku pengen juga tuh tahu lebih banyak & eksperimen kopi. Seru kayaknya. Aku tukang ngopi tiap hari, tapi pengetahuanku soal kopi begitu sedikit...

    BalasHapus
  12. Belum pernah liat barista bikin kopi. Banyak ya macamnya :D

    BalasHapus
  13. err, emang kl diseruput gak boleh ya mbak?

    BalasHapus
  14. Itulah kenapa saya jarang bikinin suami saya kopi. Biar dia aja yang nyeduh sendiri hahaha

    BalasHapus

Terima kasih sudah membaca blog saya. Saya akan senang membaca komentarmu. :)