Berbuka dengan CNI Sehati Kurma




Dari Anas bin Malik, ia berkata :

"Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berbuka puasa sebelum shalat dengan ruthab (kurma basah),  jika tidak ada ruthab, maka beliau berbuka dengan tamr (kurma kering), dan jika tidak ada tamr, beliau meminum seteguk air” [1]


"Tuh Dy, berbuka tuh makan kurma dulu."

Bertahun lalu, suami sudah mengingatkan saya pada hadis tersebut. Tapi saya tetap menggeleng. Alasannya, saya tidak terlalu suka dengan yang manis-manis. Tahu sendiri ya, kurma yang dijual di Indonesia adalah jenis tamr yang dikeringkan dengan bantuan sinar matahari dan mungkin juga sudah ditambahi pemanis. Rasanya itu loh, menonjok gigi pada gigitan pertama.

Tapi lain lagi kalau kurma segar yang sempat dibawa Mama sepulang urah. Rasa manisnya berebda, lebih lembut dan segar. Ya iyalah, ruthab. Selain harganya yang agak mahal untuk kantung saya, ruthab juga jarang ditemui di super market terbesar. 

Nah, beberapa waktu yang lalu seorang kawan baik mengirimkan kotak eksklusif berwarna hitam dengan pita emas ke rumah. Dan ternyata isinya KURMA! Awalnya sudah mengerutkan dahi karena suudzon rasanya pasti manis banget. Tapi makin penasaran karena kurma yang dikirimkan adalah produk dari Gerai CNI.

Tunggu deh, ini pasti berbeda. Kemasannya pun berbeda, kok. Akhirnya kemarin, saya memutuskan mencicipi CNI Sehati Kurma. Daaaan...rasa penasaran saya pun terjawab. Selain teksturnya yang kering di luar dan lembut di dalam, rasanya ternyata pas. Enggak manis-manis amat.

Maka, saya pun menghubungi kawan saya tadi. Di ujung sana, dia terbahak dan merasa senang karena akhirnya saya menemukan kurma yang pas dengan selera saya. Idih, gitu amat ya :D

Kawan saya itu juga menjelaskan bahwa CNI Sehati Kurma adalah kurma dari jenis Khenaizi yang langsung diimpor dari Uni Emirat Arab. Soal kemasan, rupanya CNI memang sengaja menggunakan duo tray pack wrap sehingga kualitas kurma tetap terjaga. Iya sih, memang tadi kemasanan dipisah dalam dua tray pack yyang terpisah. masing-masing tray dikemas lagi memakai plastik. Like it!


Soal dagingnya yang tebal tapi tidak terlalu juicy, kawan saya itu mengamini pendapat saya. Ia juga mengatakan bahwa saya tidak perlu khawatir dengan kadar gula dalam CNI Sehati Kurma, karena dijamin tanpa penambahan lapisan gula. 

Oooh, jadi kurma-kurma yang kerap saya beli itu rupanya memakai lapisan gula toh. Pantas saja lengket di jemari dan manisnya kebangetan.

Kawan saya itu juga menyarankan agar saya mengolah kurma-kurma yang sudah ia kirimkan. Mungkin jadi segelas jus kurma dingin yang nyess banget diminum setelah berbuka. 

"Atau, keluarkan saja bijinya, lalu isi dengan almond panggang, manisan jeruk atau krim keju, Dy. pasti enak!"

Kemasannya pas masuk tas, bersama Al-Quran untuk bekal mengaji dan bukber di masjid ;)
Ah gila, nih, punya ide kok ya menarik banget. Lol. Besok pasti say abikin, deh. Nanti saya update di sini ya ;)

Dan saya makin tercengang saat mengetahui bahwa kurma memiliki gizi yang baik untuk tubuh. Menurut Wikipedia nih, ya,

Kandungan gula pada kurma yang telah matang sekitar 80%; sisanya terdiri dari protein, serat, dan elemen termasuk boron, kobalt, tembaga, fluor, magnesium, mangan, selenium, dan seng.



Wokeh, makin matap aja nih mengonsumsi kurma. By the way, kalau mau mencicipi CNI Sehati kurma, monggo langsung klik di sini. Jangan melipir ke rumah saya, karena kurmanya sudah habis dan saya masih menunggu pesanan kurma saya datang! Hahaha.

Hei, selamat berbuka ya. Semoga shaum kita hari ini jadi berkah dan amalan untuk bekal pulang nanti. Aamiin. 

Footnote:
 [1]. HR Abu Dawud (no. 2356), Ad-Daruquthni (no. 240) dan Al-Hakim (I/432 no. 1576). Dihasankan oleh Imam Al-Albani dalam Irwa-ul Ghalil fi Takhrij Ahaadits Manaaris Sabiil IV/45 no. 922


2 komentar:

  1. Wah ini sih cocok buat aku yang gak suka manis-manis juga, Mbak Dy

    BalasHapus
  2. Kurma dikonsumsi gimanapun juga tetep enak ya :D

    BalasHapus

Terima kasih sudah membaca blog saya. Saya akan senang membaca komentarmu. :)

Recent

recentposts

Random

randomposts